Sabtu, 22 Agustus 2015

Travelling,,, dan kaki yang tak bisa bebas

Sejak lulus S1, saya diberi anugrah berupa kesempatan bepergian ke beberapa tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya.
Kadang memang keperluan pekerjaan,, kadang memang direncanakan untuk berlibur.
Atau, keperluan kondangan yang diniatkan juga untuk liburan, hehe...

Jika sempat, saya senang berbagi kisah perjalanan itu di media sosial.
Berbagi foto,,
Juga berbagi kesan.

Tapi, satu cerita dari teman melingkar membuat saya sedikit sungkan untuk berbagi perjalanan saya.

Hari itu, pertama kalinya saya bertemu dengan dia dalam lingkaran.
Di pikiran saya,, dia adalah seseorang yang bahagia dengan pernikahannya. Bagaimana tidak,, dia menikah dengan seorang hafidz lulusan luar negeri.
Tapi ternyata,, tanpa ditanya, tiba-tiba dia bercerita bahwa dia merasa tertekan.
???
Dia merasa kebebasannya 'dikekang'.
Kemana-mana selalu diantar,,
Kalau tidak ada agenda kampus,, maka ia hanya menghabiskan waktunya di rumah.
Hweee...
Suaminya menyeramkan.. *menurut saya :p

Setelah mendengarkan ceritanya lebih lanjut,, dia pernah mengalami keguguran,, dan ketika ia hamil,, ia diharuskan bed rest.

Ya tentulah,, dalam pernikahannya yang belum mencapai dua tahun itu,, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Kalaupun pergi-pergi, akan diantar. Mungkin,, suaminya khawatir.

Ok, then her husband is good enough.. #changemymind :)

Tapi romannya dia masih 'rindu' bepergian dan beraktifitas seperti sebelum dia menikah.

Cerita yang hampir sama dilontarkan teman melingkar yang lain,,
Hanya saja, suaminya lebih 'moderat'. Ia masih bisa me-lingkarkan adek-adek di suatu sekolah,, Pun ketika dia punya bayi,,

Tapi, satu mba lingkaran saya menyatakan hal yang berbeda..
Ia bisa jalan-jalan,, mengunjungi guru ngajinya dahulu di luar provinsi dan tetap diijinkan oleh suaminya.
*suami mba jjang! #thumbsup

So,. cerita teman-teman melingkar itu menempel di kepala saya.
Is it really hard to get your own time to have a fresh air once you are married?
Or it just depends on whom you are married to?

Ah, mollaa...

Saya jadi merasa sungkan untuk berbagi cerita perjalanan saya,, khawatir ada sahabat  yang sudah menikah, yang 'kakinya tak bisa bebas",, merasa sedih dan 'terbangkitkan' perasaan terkekangnya atas postingan saya.

Seperti ketika saya berbagi di grup chatting,, dan mendapat respon bahwa ada teman yang belum 'travelling' lagi setelah menikah dan punya anak saat ini.

Apakah share saya membuat dia sedih?
Atau dia hanya mengungkapkan apa yang dia rasa,, dan bukan saya yang memicu 'kebangkitan' rasa itu.
I mean,, perasaan sedih karena 'tidak bisa travelling saat ini' itu memang sudah ada sejak dulu,, bukan menyeruak seketika ia membaca share saya.
Atau itu yang terjadi? Rasa sedih seketika datang ketika membaca postingan saya yang diberi kesempatan travelling,, sementara (saat ini) dia belum bisa.
Atau bahkan ia merasa iri,, atau,, merasa saya menyindir dia,, 'pamer' kepadanya???

*Slap!
Bodoh!
Tidak seharusnya dan tidak sepantasnya saya berpikir bahwa dia "merasa iri,, atau,, merasa saya menyindir dia,, 'pamer' kepadanya???"
Tidak pantas seorang sahabat merasa demikian!

:(

#Maaf, chingu...

Hm...
Saya mencoba merenungi sesuatu.
Antara 'travelling' dan 'kaki yang tak bisa bebas'.
Dan hasilnya,
Saya tersenyum.
Seperti ketika muncul diskusi soal stay at home-mother dan have a carrier outside home-mother...
Atau soal breastfeeding baby dan sufor...
Kesemuanya adalah yang tidak bisa di-hitam-kan satu sisi sementara sisi lain merasa putih.
Maksud saya,, tidak tempatnya untuk merasa salah satu paling benar dan merasa lebih baik dari yang satunya.
Tidak tempatnya pula untuk merasa kalah atas satu yang lainnya.

C'moon, guys..
Travelling atau 'kaki tidak bisa bebas',, both of us must be happy,, and sure, we can be happy.

Kita punya waktu masing-masing untuk setiap episode kehidupan kita.

Show them our brave heart,, that we can be happy at our friend's happiness...

Hwaiting ^^//

Wish you could feel the thrill of canopy trail,, as I did.

Love you always... :)

Minggu, 16 Agustus 2015

Selangkah lebih dekat,,,

:)

Dua hari terakhir, serasa sedang ada di taman impian hati jaya Ancol dan sedang menaiki roller coaster.

Sometimes up,
And another second it was so drown..

:)

Capek, saya akui.

Segerombolan tugas yang harus dikerjakan, bergelut dengan berbagai lintasan pertanyaan,, lalu bertemu dengan sekeranjang kekhawatiran,, lalu terbungkus satu pertanyaan.

Rumit ya?

Sangat saya.
Dari dulu, ketika bercerita pada mr ketika lq,, responnya biasanya sama,, "ergh.. g jelas deh.."

:D

Mianhe,,

Begini.
Jadi,
Sepertinya hal ini bukan hanya menjadi pengalaman hidup saya.
Di ujung Sumatera sana, ada seorang sahabat yang memiliki cerita hampir sama.
Hampir,, hanya hampir.
Hal yang sama antara kami adalah sama-sama terus ditanyai 'kapan' atas sesuatu yang belum kami miliki.
Bedanya,, sepertinya hanya saya yang kemudian 'lari' menaiki 'roller coaster perasaan' dan membuat diri sendiri merasa tidak ingin keluar kosan.
Are you with me?
Tired to be again and again and again being asked with the same question,,

Dimana; "yang ditanya tidak lebih tahu dari yang menanya" - akan jawabannya.
Dimana; "Kita hanya mencoba menjalani apa yang kita bisa"
Sementara orang lain terus menuntut kita untuk memenuhi standar mereka.
Dan kita merasa tidak sanggup.
Tidak mampu.
Tidak berani.
Tidak tahu harus bagaimana.
Tidak tahu.

Mattji.

The last two days,, i've been like that.
Membiarkan diri sendiri duduk manis di roller coaster itu.

Lalu bertemu dengan memori kejadian yang tak disangka,, yang membuat badan bergidik,, takut,, menangis,, dan ingin lari.

Lalu berbentur dengan pertanyaan yang sangat menakutkan untuk dijawab.

" Apa kamu tidak percaya pada Allaah? Apa kamu tidak percaya akan segala keputusanNya? Apa kamu tidak yakin akan rahmah yang selalu ada dibalik kehendakNya? Bukankah selama ini kamu selalu yakin,, setiap takdir-Nya membawa hikmah kebaikan?"

:)

Capek.
Iya.
Capek,,,
Menghadapi jungkir-baliknya perasaan sendiri itu capek.

Tapi,,,
Itu menyenangkan.
Karena pada akhirnya,, ada senyum yang mengembang,, menyadari satu hal.
Kita menjadi selangkah lebih dekat dengan kedewasaan jiwa.
Mungkin memang masih sangat jauh dari menjadi manusia yang dewasa,,
Tapi kita sudah satu langkah lebih dekat.

Cukahe,, Cingu.

Oh ya,, kesimpulan dari roller coaster dua hari itu,,, adalah doa.

Jangan pernah lewatkan berdoa pada Allaah...

^^


Rabu, 12 Agustus 2015

Selamat,, Anda memasuki tingkat akhir,, dimana Anda ingin menyerah,,, dan ...

:)

Selamat,,
Anda (saya) memasuki tingkat akhir,, eh,, salah.. tingkat atas ^^,,
dimana Anda (saya) ingin menyerah,, dan ingin ....

^^

Hmh,,

Jadi mahasiswa tingkat atas ini memang bukan pertama kalinya buat saya.
Lima tahun lalu, saya juga berada di posisi seperti sekarang ini.
Ingin menyerah?
Sangat.
Tapi, alhamdulillahnya saat itu tidak menyerah.
Sekarang...
Sama.
Ingin menyerah.

Wajar kok,,
Kata Uozumi-senpai,, pemain Ryonan di Slam dunk,, "setiap harinya, orang ingin menyerah."
Jadi sebenarnya, saya tidak sendirian.

^^

Kalau sudah 'merasa' ingin menyerah, harus bagaimana?

Setiap orang punya caranya sendiri, menurut saya.
Ada yang tancap gas,, sama sekali tidak menghiraukan rasa itu...
Ada pula yang lebih memilih untuk 'break'.
Hyups,, take a step aside,,, untuk menghirup udara yang lebih lapang.. sebelum kembali berhimpitan dengan hal-hal yang menyesakkan.

and hyups,,
Saya termasuk orang yang memilih untuk 'break'.
Kadang,, 'break'-nya itu kelamaan,, I admit it.
Hehe,,
Ada yang pernah berkomentar; "Kamu itu santai banget ya,, orangnya.."

Cuma bisa senyum..

Tapi,, memang sepertinya demikian.

Akhir-akhir ini, sepertinya lebih plegmatis.

Atau, tidak juga.

Hanya teringat dan menjadi terbiasa menuruti nasehat Abah yang satu ini;
"Nikmati saja".

Ketika itu, aku, Abah dan Abray sedang di  perjalanan menuju Bandung tercinta.
Takdir Allaah,, kami menemui macet yang pwaaanjaaang di tol Jakarta.
Di situasi seperti itu, saya mengusulkan untuk menyalakan radio, untuk mengetahui apa yang terjadi,, apa yang menyebabkan macet sepanjang itu,, apakah ada kecelakaan.. atau apa..
Abah menolak usul saya,, lalu bilang; "Nikmati saja."
Sudah kadung memilih jalan tersebut,, kejebak macet,, jadi dinikmati saja.
Begitu kata beliau.

Jadi, sebenarnya saya hanya mencoba menikmati masa 'break', lalu masa persiapan,, untuk menjalani masa 'go'.

Ketika saya ingin menyerah,,, kadang saya mengingat kembali mengapa saya sampai berada di posisi ingin menyerah ini.
Kenapa saya dulu memutuskan untuk kuliah kembali, misalnya.
Kenapa saya sampai mentok tidak bisa berpikir apa yang harus saya susun untuk bab pertama proposal, misalnya..

Take your own time untuk merenunginya; alone with Him.
Pantaskah saya menyerah saat ini juga,,
Atau saya bisa 'menunda'-nya.

Kalau sudah selesai merenungi sendiri,, coba 'lambaikan tangan' ke arah teman...
Maksud saya,, cobalah meminta pertimbangan orang lain,,
Siapa tahu,, dua kepala akan berpikir lebih baik daripada hanya satu.
Tapi, ketika 'melambaikan tangan',, hati dan perasaan harus berada pada posisi lapang.
Karena tidak semua orang yang kita lambaikan tangan padanya akan menyambut lambaian tanagan kita,, atau paling pahit adalah,, tidak sama sekali menyadari ada tangan yang melambai padanya.

^^
Jika situasi itu terjadi,,
Well,, anggap saja Allaah sedang membuat kita menjadi lebih mandiri.
How? :D

So,,, berhubung tiba-tiba no idea mau meneruskan tulisan ini dengan kalimat apa,
Saya sudahi dulu ya.

With these words...
"When you smile, sun shines.. at least, in my mind. So, smile.. :) "

Senin, 03 Agustus 2015

Tak perlu alasan besar,,,

23.48.
Tangal 3 Agustus 2015.
Sudah lewat setengah tahun dari 2015.
And I’m still here.
Yups.
Aku masih disini.
Di kosan yang sama.
Status yang sama.
Sebagai cheer-team.
Tapi, ada yang berbeda.
Dan semoga,,  akan selalu seperti ini.
Senyum ini,
Kelapangan hati ini.
Ah, Allaah memang Maha Baik.
Allah Mahatahu yang kuperlukan.
Ketenangan.
Kelapangan.
Kebahagiaan.
Ternyata, memang benar.
Ketiganya tak perlu alasan besar.
Tak perlu benda atau personal untuk menjadi perantaranya.
They could be given straigth to anyone...
No need  any reasons.

Semoga, tak ada lagi kalimat, “Ada kamu, aku jadi tenang..”
Karena kalimat itu bisa memicu yang namanya syirik.
Tapi ia berganti menjadi , “Alhamdulillaah,, “


Jangan berhenti belajar, ya Nong... J

Selasa, 30 Juni 2015

Kkum

Langit di depan jendela kamarku abu-abu.
Mendung?
Aniya
Mungkin, sedikit.
Pohon nangka di tempat jemuran sudah tinggi. Daunnya sudah ada yang kering,, lumayan.. Bisa dipakai untuk cuci muka sesekali *ala jaman dulu.
Dulu.
Duluuuuu sekali.
Jaman masih semampai; semeter belum sampai.
Jaman ke tempat mandi harus pagi-pagi sekali,, melewati kebun, menuruni tangga tanah. Tak jarang memungut daun kering dari pohon nangka untuk diremas lalu dibasahi dan diusapkan ke muka. Sampai sekarang, aku belum tahu apa penjelasan ilmiah atas itu,, aku hanya mengikuti apa yang dilakukan kakak-kakak ku.
Jaman dulu,, duluuuu sekali...

Kangen jaman itu.
Ketika aku tak harus memutuskan apapun,, cukup mengekor.
Ikuti apa kata mama,, kakak,, guru...
Hahahahaha..
Padahal, jaman itu,, aku ingin sekali cepat dewasa,, karena merasa kesal harus mengikuti apa yang mereka putuskan. Lha,, sekarang malah merindukan masa-masa itu.
Rasanya,, sesuatu sekali ketika menanyakan solusi atas sebuah dilema *halaah... Dan jawaban yang diberikan adalah,, "Kamu bisa menentukan sendiri solusinya,, kamu sudah besar..."
Ya.. Ya.. Ya..
I'm a big girl now.
Big,,
Sebesar angka yang ditunjukkan timbangan berat badan, hahaha..

hm....

Satu hal dari masa lalu yang ku suka, adalah kkum.
Impian.
Menengok ke tempelan kertas di dinding lemari, disana ada banyak impian yang ku tulis dan kuperbarui tiap tahunnya.
Sudah ada beberapa yang kugarisi.. tanda sudah 'alhamdulillaah..'
Terakhir kali aku garisi itu,, aku lupa.

Lupa karena faktor umur?
Hehe,, sepertinya.

Dan sejak terakhir itu, rasanya belum ada lagi impian yang aku garisi.
Parahnya lagi, aku sempat mengalami masa "empty".
Mong.
Blank.
Kosong.

'Masa Mong' itu sebenarnya hanya sebutan ku sendiri.
Aku menamai masa ketika aku merasa tidak ingin dan tidak perlu untuk memiliki impian.
Masa ketika aku hanya menjalani hidup sesuai aliran setiap detiknya.
Seperti ketika aku di pertengahan semester ganjil tahun lalu.
Bangun,, rutinitas pagi, setelah itu membersamai leptop.
Begitu dan begitu terus.
Tak ada hal yang membuatku bergerak lebih dari ritual itu.
Tak merasa bersalah.
"Toh aku tak merugikan atau menyakiti siapa pun,, " di pikiranku saat itu.

Cukup lama 'masa Mong' itu terjadi.

Dan,, taraaaaa......
Akhirnya,, sekarang,, alhamdulillaah aku mulai berjalan meninggalkan 'masa Mong',, dan mulai merangkai kembali Kkum-ku.

Kkum.
Impian.
Dream.

Ternyata,, dalam fase hidup seseorang,, (atau mungkin hanya aku),, ada masa dimana impian itu berganti,, sesuai dengan lingkungan dan kejadian yang dialami.
Mengalami 'revisi'.
Disesuaikan dengan keadaan, agar peluang terwujudnya semakin besar.

Dan ternyata,, Kkum itu sangat penting (setidaknya, bagi ku).
Sebagai suatu poin tujuan,, agar setiap episode hari jadi lebih 'hidup'.

:)

Hei, Kkum,,
please,, don't dissapear anymore..

^^



Rabu, 03 Juni 2015

When it's gone,,

Just  search again...

Just it.
Don't take too much time wondering.
And asking why.

Just search it again.
Again
And again.
Untill we found it.
Own it.
Once again

Minggu, 29 Maret 2015

Catatan kecil Bandung-Bogor

Hujannya turun deras.
Rok yang kukenakan disapanya.
Tak luput tentu, kaos kaki krem motif bunga yang membungkus kaki ku.
Jadi tertegun, kenapa dulu aku membeli sepatu teplek dengan model bolong-bolong ini...
Mana bagian solnya sudah patah.. Lengkap sudah pertemuan antara alas kaki dan genangan air itu.

Tapi, tak apalah. Mungkin itulah cara langit menyambut ku di terminal Leuwi Panjang ini.
Bis biru kotak-kotak, berplang mini dengan tulisan "Bandung-Leuwiliang", seakan tersenyum manis.
Anggap saja demikian.
Meski dengan kepala yang belum ada ide ini aku berangkat menjelang kampus,, setidaknya pikiran positif bisa banyak membantu.

Bis biru melaju anggun.
Melewati genangan, alias banjir, setinggi 15-20 cm di jalanan Soekarno-Hatta.
Sesampainya di pintu tol Pasir Koja, mentari tersenyum.
Ini bukan hanya anggapan ku.
Tapi memang ia bersinar lembut.
Tanpa tangisan langit.
Mungkin, seperti itu pula perjalanan ku kelak.
Hujan deras, lalu cerah.
Mungkin, aku hanya perlu berjuang lebih lagi, sedikit lagi, sebentar lagi, lalu aku bisa menemui senyum mentari itu *ngarep. Hahaha

Ya,, anggap saja demikian.
Anggap saja tinggal sebentar lagi, sedikit lagi.
Karena toh, "Innaa ma'al 'usri yusroo.."
Bersama kesulitan, ada kemudahan..

:)