Selasa, 16 September 2014

Perempuan dan Penghidupan

Perempuan dan penghidupan.
Sebuah pesan muncul di whats app grupku yang selalu ramai setiap hari, padahal isinya hanya berlima.
Ku kira, hanya pesan biasa. Percakapan antara lima anak perempuan yang bersahabat sejak lama.
Tidak.
Pesan itu istimewa, setidaknya bagiku.
Mengingatkanku akan suatu hal.
Pesan itu cukup panjang. Sangat panjang malah.
Isinya, tentang cuplikan sebuah talk show di sebuah stasiun tv, Mata Najwa.
Edisi kali itu, bintang tamunya adalah seorang srikandi abad 21, walikota Surabaya.
Kenal?
Tidak. Saya hanya tahu beliau.
Ibu Risma yang saya tahu dari media.
Beliau saat ini sedang berjuang menutup sebuah lokalisasi di daerahnya.
(Berkebalikan dengan  seorang wakil gubernur metropolitan Indonesia yang malah berniat membuat lokalisasi di wilayahnya)
Sebuah lokalisasi, yang terjadi atas dalil buruknya keadaan ekonomi.
Lalu ‘terpaksa’ self-selling
Dan yang umumnya ‘dijual’ adalah perempuan.
Entah karena ‘dipaksa’ atau memang ‘atas kesadaran diri sendiri yang berkebutuhan secara ekonomi’.
‘Tak ada jalan lain’
‘Tak punya pendidikan’
‘Tak punya pilihan lain’
Dan entah kenapa, yang self-selling sebagian besar adalah perempuan.

Ayah mereka kemana? Berjuang menggapai rezeki di tempat lain atau bagaimana?
Suami mereka kemana?
Atau mereka memang ‘tidak punya’ ayah, apalagi suami?

Teringat kembali ucapan mama beberapa hari lalu.
Cerita beliau tentang salah satu kenalannya, yang bercerita tentang keadaan usahanya berjualan di pasar tradisional.
Kenalan mama itu bilang, “Nya kitu we, Bu. Diusahakeun we, da pami henteu mah bade kumaha.” (Ya, begitu saja, Bu. Diusahakan saja, karena kalau tidak begitu mau bagaimana.)
Lalu mama bertanya tentang suami ibu itu. Dan ia berujar bahwa sang suami bekerja sebagai tukang ojek, ketika ia mau. Ketika lain, hanya beristirahat di rumah.
Alhamdulillah,, meski keadaan ekonomi ibu itu kurang, beliau masih berusaha berdagang di pasar tradisional dan tak sampai harus self-selling.
Meski saat itu keningku berkerut, kenapa suaminya hanya berusaha sedemikian?
Mungkinkah para perempuan yang bekerja di lokalisasi itu tidak dibiayai suaminya, lalu buntu akal melakukan self-selling?

Aku tak boleh menyimpulkan tanpa bukti dan data yang benar.
Teringat pula sebuah quote pada media sosial yang tak sengaja ku baca.
“Perempuan terbuat dari tulang rusuk. Jangan jadikan ia tulang punggung.”
Seratus persen aku setuju dengan quote tersebut.
Karena dalam hal berumah tangga, memang kewajiban menjadi tulang punggung bukan berada pada bahu perempuan.
Tapi, apa kenyataannya?
Di luar sana, masih banyak para perempuan yang terpaksa atau sukarela, menjadi tulang punggung.
Alhamdulillah, ketika pilihan usahanya masih berada dalam koridor norma kemasyarakatan (minimal). Nau’dzubillah, ketika pilihan usaha itu telah carut marut dalam jurang … (tidak tega menuliskannya).

Well, karena aku sendiri memang tumbuh pada keadaan orang tua single parent fighter, maka aku sangat menghargai para perempuan yang berjuang menjadi tulang punggung keluarganya; karena kebutuhan.
Dan aku tak pernah bisa menyalahkan kaum perempuan yang berkebutuhan ekonomi untuk menjadi itu.
Ketika memang sudah tidak ada sosok adam yang menjadi tulang punggung.
Tapi sangat disayangkan ketika pilihan para perempuan tangguh itu adalah jurang …
Ayolah,, betapa banyak pekerjaan lain yang bisa dijalani untuk medapat penghidupan.
Seperti sosok ibu yang menjadi pemulung, yang ku lihat malam tadi.
Bersama, mungkin, anaknya, berbekal karung putih bekas, mengais setiap tumpukan sampah di jalan dan emper toko.

Terlintas satu pikiran, akankah aku seberani beliau dipandang sebelah mata oleh orang lain, dianggap ‘hina’, demi mencukupi kebutuhan hidup ketika suatu saat nanti (mungkin) aku tak punya jalan lain menjemput rizki dariNya?
Atau malah (naudzubillahimindzallik) memilih menjadi ‘simpanan’???
Naudzubillaahimindzalik..
InsyaAllah bukan keduanya.

Aku pikir, tidak akan terjadi kedua hal itu, insyaAllah, ketika seseorang terdidik.
Terdidik, bukan ter-sekolah.
Maksudku, terdidik tidak selalu berarti harus sekolah.
Pendidikan bisa diperoleh di rumah, kan?
Dari seorang ibu.
Madrasah pertama seorang anak.
Pendidikan tentang tauhid.
Pendidikan tentang hidup zuhud, sehingga kebutuhan ekonomi berjalan normal. Tidak berambisi memiliki hal-hal yang memang tidak perlu. Mobil mewah, untuk apa? Untuk dijual lagi, mungkin J
Gadget terkini, padahal tidak tahu juga mengoperasikannya, hanya turut trend.

Jika persoalan lokalisasi itu diurai menjadi pohon masalah, entah berapa cabang yang akan terjadi.
Lokalisasi itu tak serta merta karena kebutuhan ekonomi.
Ia terbentuk dari banyak hal,
Jiwa yang tak beragama,
Jiwa yang tak terdidik,
Lingkungan yang buruk,
Jerat rentenir,
Pendidikan wirausaha,
Realisasi amanah pemerintah untuk menanggungjawabi fakir miskin dan anak terlantar,
Penyediaan sekolah yang berkualiltas,
Penyuluhan wirausaha,
Kelembagaan ekonomi masyarakat,
Empati antar masyarakat,
….
Ya Allah,, semoga Engkau berkenan melimpahkan kekuatan dan keberkahan bagi mereka-mereka yang berjuang untuk mencari penghidupan yang Engkau ridhai..
_Selintas pikiran…_






Jumat, 12 September 2014

From Lucy

Suatu ketika di ahad yang cerah,,
tumben-tumben-an my little baby panda (my little brother) mengajak saya nonton.
Benar-benar suatu ketumbenan.
Apalagi, dia bilang dia yang akan membayar tiket nontonnya,,
Subhanallaah kan?
Tidak biasanya dia menawari menraktir akaknya ini, hehehe...
Entah ada angin apa..

Singkat cerita, saya berangkat dari dramaga dan sampai di BTM pada pukul 10.10 wib.
Wuish,,, Ingat sampai ke menitnya,..!
Tentu ingat,,
Kenapa?
Karena saat itu kami janjian bertemu pukul 11.00.
Jadi saya sempatkan mengecek jam kalau-kalau sudah dekat jam 11.
Ternyata saya kepagian, sodara-sodara..
Bagus kan? Jadi saya tidak terlambat.
Dan lebih bagusnya lagi,, adikku sayang itu baru sampai di stasiun pasar minggu *katanya.
Itu berarti saya harus menunggu lebih lama..
Awalnya tidak apa-apa,, toh memang jam janjian kami masih ada beberapa saat.
Tapi ternyata,, dia telat sampai 40 menit lebih dari jam 11..
Hffhfhf...
(Rasanya ingin makan eskrim..)
Jadi curiga,, jangan-jangan dia membalas saya karena aku membuat dia menunggu lama saat saya memintanya menemani belanja kado nikahan teman.
*Impas deh Bro..

Well, bukan itu cerita intinya, Gals...
Cerita intinya adalah tentang hikmah dari film yang kami tonton.
Judul filmnya adalah LUCY.
Aktor utama yang berperan di film tersebut adalah Morgan Freeman.
Awalnya kami akan menonton film yang lain,,
Tapi film tersebut tayang jam 13an dan akan berakhir di 15.40 wib.
Artinya akan melewati waktu awal shalat ashar.
Jadi kami memilih film LUCY.
Selain itu, bagi saya, Morgan Freeman seperti stempel yang menerangkan bahwa film tersebut sangat layak ditonton. :)
Dan saya sangat tertarik dengan penjelasan dari film tersebut.
"Seseorang yang akan mengoptimalkan pemakaian otak hingga 100%"
Keren kan?

Sinopsis singkat film ini,,
Berisi tentang seorang perempuan bernama LUCY yang berkenalan dengan seorang pria di China.
Pria kenalannya itu memintanya mengantarkan sebuah koper dengan iming-iming bayaran 500 dolar.
Lucy menolak,, tapi pria itu memaksanya dengan memasangkan borgol di tangannya yang dipasangkan dengan koper,
Walhasil Lucy harus mengantarkan koper itu.

Dengan cukup ketakutan, Lucy mengantarkan koper itu,, yang ternyata berisi sejenis narkotika baru.
Saya lupa nama narkotika baru itu, tapi itu merupakan duplikasi sintetik dari suatu zat yang diproduksi ibu hamil dan diberikan pada janinnya.
Zat tersebut (atas izin Allaah) memberikan energi yang sangat dahsyat untuk membentuk dagung, tulang, menyambung syaraf, dan lain-lain.
Dosis zat yang diberikan ibu terhadap janinnya tersebut hanya sedikit.

Setelah mengantarkan koper, Lucy dipaksa menjadi kurir narkotika tersebut oleh si Gengster *sebut saja demikian).
Ini adegannya seram,, karena narkotika itu dimasukkan ke dalam perut Lucy.
Meski tidak diperlihatkan proses pembedahannya,, tetap saja terasa ngilu.

Lucy dikirim ke daerah Taiwan.
Malangnya, receiver narkotika di Taiwan malah menyiksa Lucy,, menendangnya tepat di perutnya.
Kantong narkotika di dalam perut Lucy robek dan isinya teresap ke dalam tubuh Lucy.
Dari sini awal proses penggunaan otak 100% itu dimulai.


Di sisi lain, Morgan Freeman berperan sebagai seorang profesor yang meneliti tentang penggunaan otak.
Di dalam kuliah umumnya, beliau menjelaskan berbagai keadaan yang bisa dilakukan seseorang pada taraf penggunaan otak tertentu.
Ketika seorang manusia menggunakan 20% kapasitas otaknya, maka dia bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, seperti aliran darah atau metabolisme.
Ketika seorang manusia mengguanakan 30 % otaknya, maka dia bisa mengendalikan orang lain.

Adegan-adengan ketika Lucy mengalami proses peningkatan kapasitas otak ini sangat mengagumkan.

Lucy yang kebingungan dengan keadaan tubuhnya, menghubungi Prof Morgan.
Cara ia menghubungi Prof Morgan pun sangat luar biasa. *tonton sendiri deh, hehehe.
Dalam percakapan itu, satu hal yang sangat bagus *menurut saya.
Yakni ketika Lucy bertanya,
"Apa yang harus saya lakukan dengan semua ini?"
Sang Profesor menjawab, yang intinya,,
Dalam kehidupan ini, seorang makhluk bisa memilih untuk menjadi 'abadi' dengan menghancurkan dirinya sendiri,, sehingga tidak ada ia yang lainnya di dunia ini.. (ini adalah pilihan ketika lingkungan tidak sesuai untuk kehidupannya),,
Atau mewariskan segala kebaikannya pada generasi selanjutnya.
Maka,, wariskanlah."

Ketika itu, saya kira Lucy akan mewariskan gennya atau apa,,
Ternyata, Lucy mewariskan semua pengetahuan dan pengalaman yang terjadi pada dirinya dan tubuhnya.
ia wariskan melalui sebuah flashdisk canggih,, yang kemudian dia berikan pada Prof Morgan.
Lalu ia melebur dengan alam.
Dan berkata.. "I'm everywhere.."

:)

That is.
Wariskan kebaikan pada yang lain.
Wariskan.
Apapun kebaikan itu.
Ilmu,
Senyuman,
Doa,
Kebaikan.


^^

Jzk khair atas traktirannya, Bro.. ^^


Buku Harian Fahrani, continued

My Dy,

Tadi siang cukup terik.
Cukup panas untuk seseorang yang lahir di kota dingin.
Meski begitu, aku harus keluar dari kamar kos ku yang nyaman.
Harus.

Karena sebuah undangan terkirim ke handphone-ku.
Undangan mengaji ^^

Sudah lebih dari sebulan kami meliburkan diri. Jadi, ketika aku bisa hadir, kenapa tidak?
Memang suasana Bogor tidak menyenangkan untuk bepergian di siang bolong.
Tapi, daripada bengong di depan laptop sendirian, lebih baik hadir di undangan ini.
Kuatkan diri menghadapi terik panas dunia, berharap dikurangi panas di akhirat, hehehe..

So, Dy..
Apa yang disampaikan Bu Ustadzah tadi membuatku berperang bathin :D
Kenapa, hm..
She said; "Selama tidak bertentangan dengan syariah, maka seorang istri harus patuh pada suami."
Demikian ucap beliau.
Lalu, apa yang membuat sampai bathinku berperang?


Hehe, sebenarnya,, tidak sampai berperang.. hanya bergejolak.. :p

Maksudku, tiba-tiba saja aku merasa terganggu.
Kalimat itu terasa begitu menandakan arogansi seorang misua, eh, suami.

Padahal mah, ya, My Dy.
It doesn't mean like that.
Hanya saja, takdir Allaah memberiku cerita beberapa tentang sosok suami yang dominan arogan.
Arogan dalam artian 'seenaknya sendiri memutuskan'.

In my mind, there is a question..
Apakah mereka sadar bahwa istri mereka juga manusia? *bukan lirik lagu lho.. ^^
Jauuuuhhhh sebelum menerima pinangan mereka, istri mereka adalah pribadi yang hidup, memiliki cita-cita dan pemikiran.
Lalu, kenapa ketika menikah, pribadi itu, cita-cita itu, dan pemikiran-pemikiran itu seakan dipaksa 'mati'?

Waaah,, ini sepertinya analisisku berlebihan ya, My Dy...

Jadi teringat sebuah nasyid tentang seorang istri bagi suaminya,
Aku lupa lirik utuhnya,
Tapi ada sebagian dari untaian kalimat itu, seperti ini:
"Di jalan ia kawan, di waktu kita buntu, ia penunjuk jalan.."

See, My Dy?
Seorang istri bisa juga menjadi kawan dan penunjuk jalan.

*take a deep breath and release it...

:)

Mungkin, analisisku tidak sepenuhnya benar.
Karena aku yakin, di dunia ini, masih ada suami-suami kece yang menjadikan istrinya tidak hanya istrinya, tapi juga kawan, sahabat, dan rekan hidup yang sangat berharga.

Just like my elder brother do.

Ja, that's it for today.
Finally, i learn realized today, that...
I have to learn to see lot of things from another side from now on.
Not only from my side and following my mind, cause sometime i do wrong.

Thank you, My Dy...
For being here today.



With love,
August 17th 2014.


Fahrani



Sepatu dan 'Seseorang'

Miza hanya bisa tertegun.
Pertanyaan itu begitu tiba-tiba.

Untung saja pertanyaan itu dilontarkan via telepon, bukannya bertemu langsung.
Kalau tidak, mungkin saat ini Miza juga harus menyetel musik  kencang-kencang agar Hitoshi tak mendengar degub jantungnya yang tiba-tiba memainkan genre rock n roll.
Pikirannya sesak, selayaknya kereta ekonomi kala musim mudik tiba.
Lalu, bagaimana dengan aku?
Kalimat dengan empat kata itu begitu lancar ditujukan Hitoshi padanya.
Sebuah pertanyaan yang sangat mampu membekukan tubuh Miza dalam satu waktu.
Kamu???
Entahlah, Toshikamu adalah orang yang selalu ada disaat aku sedih, bahagia, bahkan dikala aku tak merasa apapun. Kamu selalu punya telinga untuk mendengarkanku meski badanmu telah menjalani jam kerja full time sebelumnya. Kamu tak pernah memutus ceritaku meski jam dijital di handphone mu sudah menunjukkan larut malam. Kamu juga tak pernah ijin tidak mendengarkan ceritaku ketika aku menelponmu tepat pada saat kamu menjalankan pekerjaanmu. Kamu tak pernah memarahiku ketika aku salah. Kamu hanya mengatakan sebaiknya aku seperti ini, melakukan itu, tanpa pernah memaksaku untuk melakukannya. Hanya memberi saran. Lalu kamu menghargai apa yang aku putuskan. Menghargainya, dan mendukungnya.
Aku hanya cukup me-miss call-mu, dan kamu akan segera menelponku.
 Aku hanya perlu mengetik status sakit untuk membuatmu khawatir lalu menceramahiku panjang lebar tentang pentingnya kesehatan.
Kamu bersedia membelikan yang aku minta, meski itu sulit dan terkadang aneh.
Kamu sering bertanya apa yang aku mau sebagai oleh-oleh ketika kamu akan pergi ke suatu tempat.
Kamu dan segala perhatian dan waktumu untukku,,,
Dan aku, tak punya cukup stok kepercayaan diri untuk menjadi rekan hidupmu.
Tidak saat ini.
Suatu saat nanti, mungkin...    
                                                  

Setelah sekian menit berbicara dengan diri sendiri dan mengacuhkan Hitoshi di ujung telepon sana,, Miza menjawab...

Entahlah, Toshi… yang aku tahu, aku hanya meminta pada Allah untuk menganugrahiku seseorang yang berkenan mendengarkan semua ceritaku tanpa pernah mengeluh bahwa aku cerewet. Tanpa pernah berkomentar bahwa keluhanku tidak penting. Tanpa pernah memotong ucapanku hanya karena ia lelah. Seseorang yang berkenan berdiskusi denganku tanpa pernah memaksakan solusinya padaku. Seseorang yang dengan antusias menanggapi segala impianku dan mendukungnya tanpa pernah khawatir aku akan melalaikan kewajibanku atas dia. Seseorang yang tak pernah merasa direndahkan olehku dengan segala anugrah Allah padaku. Seseorang yang…  sepertimu. Jika Allah menciptakanmu untukku,  suatu saat kita akan bersama sebagai rekan hidup.  Pasti.”
***
Demikianlah.
Miza dan Hitoshi sudah lenal lama. Bertahun-tahun.
Tapi itu tak menjadikan Miza yakin menerima Hitoshi ketika Hitoshi ‘menawarkan diri’ menjadi rekan hidupnya.
Mengapa?
Tanya Miza saja langsung… hehe..

Kalau menurut pendapat saya,, *yang bukan ahli pernikahan tapi sudah banyak pengalaman pernikahan a.k.a kisah pernikahan orang terdekat,-  sih,, karena apa yang ada sebelum pernikahan tak akan selalu sama ketika setelah pernikahan.
Mereka yang melalui proses ‘pengenalan’ bertahun-tahun, tetap tak mampu memahami pasangannya padahal anak mereka sudah ada dua, satu diantaranya bahkan sudah duduk di bangku kelas tiga SD. Tetapi ada pula yang -alhamdulillah- bisa saling memahami dan menjadi tim yang cukup solid untuk membangun keluarga yang kece dunia dan akhirat.
Mereka yang ta’aruf selama beberapa bulan lalu menikah,,, ada yang ‘terseok’ menjalani kehidupan, ada pula yang saling membahu menuju ridho-Nya.
Do desuka?
Mengapa demikian?
Hm.. mungkin,, ini berkaitan dengan penerimaan.
Penerimaan bahwa seseorang yang kau nikahi adalah seseorang yang Allah anugrahkan padamu. Sehingga, pasti ada hikmah indah dari itu.
Allah selalu memberi kita yang terbaik, kan? Sepahit apapun terasa oleh kita. Namun, berlapanglah menunggu untuk sampai pada saat indah itu Allah tampakkan. Saat ketika Allah menampakkan alasanNya memilihkan dia untukmu.
Demikian mungkin yang mereka -berhasil bertahan tetap mencintai dan memperlakukan pasangannya dengan baik-; rasakan, lakukan.
Hehe,, sok tahu ya.. :p
Bukan sok tahu,, hanya mencoba mengambil hikmah dari pengalaman orang lain J
Beberapa kali aku mendengar kalimat ini;
“Rekan hidup itu tidak seperti sepatu. Pernikahan itu tidak seperti memakai sepatu.”
Emang iya lah ya.. :D
Hehehe,,
Maksud dari kalimat itu sebenarnya begini.
Memilih pasangan dan menjalani pernikahan adalah hal yang serius.
Tidak seperti memilih sepatu dan memakai sepatu,,
(meski bagi saya memilih sepatu dan memakai sepatu juga adalah hal yang serius. Jangan sampai salah model, hindari salah warna, harus yang nyaman dipakai plus harganya sesuai dana yang dipunyai ^^. Memakai sepatu jangan sampai salah tempat, salah acara,, masa pakai sepatu dengan hak tinggi ke lahan praktikum penanaman kacang kedelai.. Mau ganti tugal dengan heells-nya? :D )
Maksudnya, “rekan hidup kita bukan sepatu” adalah bahwa tidak seperti sepatu yang bisa dengan seiring berganti tahun, seiring berganti acara, seiring lamanya waktu pakai,,, diganti dengan sepatu lain.
“Pernikahan tidak seperti memakai sepatu”,, tidak boleh dengan mudah mengganti atau bahkan memensiunkan sepatu yang telah dipakai karena sepatu itu sudah rusak atau sudah ketinggalan jaman, misalnya.
Rekan hidup adalah pribadi yang memiliki jiwa, pemikiran, keinginan, ruh dan hati.
Ketika seseorang ‘merasa’ rekannya sudah (maaf) membosankan, tidak asik lagi, tidak up to date,, maka ia TENTU tidak bisa seenaknya mengganti rekan hidupnya. Tetapi me-refresh jiwa, pemikiran, keinginan, ruh, dan hati rekan hidupnya itu,, mengusahakan agar rekan hidupnya menjadi pribadi yang menyenangkan baginya,, atau mengevaluasi diri,, jangan-jangan ia menjadi penyebab atas semua kebosanan yang terjadi. Bukan malah memalingkan muka dan berlalu.
Dari awal pernikahan,, kesadaran bahwa rekan hidupnya adalah yang terbaik dari Allah,, meski mungkin bukan orang yang ia sebut namanya dalam doa di setiap sujudnya,, harus ditanamkan elok-elok.
Karena Allah selalu memberi yang terbaik.
Meski (mungkin) ada saat-saat dimana merasa sangat ingin mengganti sepatu, eh, rekan hidup,, ketika teringat, tersadar kembali bahwa ia adalah yang terbaik dari Allah,, maka keinginan itu akan menghilang,, (semoga, insyaaAllaah)...
Jadi, ketika telah dengan kesadaran sesadar-sadarnya ketika memilih seseorang untuk menjadi rekan hidup, atau dengan kesadaran dan kerelaan serela-relanya menerima pinangan seseorang untuk dijadikan rekan hidup,, lalu suatu ketika di dalam episode pernikahan ada yang berbeda dari ketika sebelum pernikahan,, maka ingatlah seingat-ingatnya hal ini,, J
“Ia yang menjadi rekan hidupmu adalah yang terbaik dari Allah. Yang terbaik, yang terbaik, yang terbaik.”
Catatan Hati Penampung Curhatan Pernikahan.. J
02 September 2014.



Minggu, 17 Agustus 2014

Buku Harian Fahrani

17 Agustus 2014.
Hari ketika rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan bangsanya dari yang menjajah secara fisik.

Assalamu'alaykum warahmatullaah...

Dear, my D...

Aku Fahrani.
Fathiya Qisthi Kirani.
Fahrani.
Aku lahir di Paris-nya pulau Jawa, 28 tahun silam.
Aku anak ke-empat dari lima bersaudara.
Dua kakak laki-laki, satu kakak perempuan, dan satu adik laki-laki.
Keluarga yang ramai?
Ya. Sangat.
Bersama Ama dan Apa.
Dengan dua kakak ipar, satu abang ipar, dan ketujuh kurcaci yang menjadi generasi penerus keluarga kami.

Ya.
Aku Fahrani.

Dan ini, kisahku.

Selasa, 15 Juli 2014

Kamu seharusnya tak lari...

Dulu, bertahun lalu, seorang sahabat bagiku mengatakan ini.
"Kamu bukannya pasrah. Tapi sebaliknya, kamu melarikan diri."
Saat itu, aku tidak setuju dengannya.
Lari dari apa?
Aku sama sekali tidak lari. Aku hanya menggapai cita yang lain, dan membiarkan Allah memberiku cita yang itu ketika Allah menghendaki aku mendapatkannya.

Saat ini, aku berpikir, apa aku benar-benar lari darinya? Dari sebuah cita yang pernah kutorehkan dimasa lalu?
Atau aku memang tidak lari,, hanya kurang berusaha. Ah, alasan saja.

Alasan saja kah?
...
Belibet tingkat gunung salak ya? ^^
Ketika seorang sahabat kita tetiba mengatakan bahwa kita telah melarikan diri dari masalah. Dari sebuah tujuan yang harusnya kita tuju. Bukan hanya diam dan mengerjakan hal lain tanpa sedikitpun memerdulikannya.
Sebuah "tamparan" yang tak diduga,, mungkin bisa dikatakan demikian.
Dan ya, sahabat adalah seperti itu. Sebuah reminder yang akan mengingatkan kita ketika kita tersalah. Karena kasih sayangnya pada kita.

Ketika itu terjadi, mari bersyukur pada Allah,, karena memberi kita sahabat yang baik.

:)

Selasa, 08 April 2014

Ikhlaskan saja.

Begitu katanya.
Kata dokter.
Kata Tesa, sepupu yang berprofesi sbg dokter, juga begitu.
Kata Bang Anom, cucu menantu yg juga berprofesi sbg dokter, juga demikian.
Tapi, Kak Desy, yang juga seorang dokter, beliau bilang, insyaAllah nenek akan lebih baik.
InsyaAllah.
Aamiin.
Saya lebih suka mendengar kata-kata Kak Desy.
Terima kasih, Kak.
Setidaknya, kalimat itu lebih baik.
Lucu rasanya,
Beberapa kali kata itu sering saya ucapkan pada diri sendiri.
"Ikhlaskan saja"
Ketika ternyata ada barang yang hilang,,
Ketika mendapat nilai jelek pada ujian,,
Ketika ditinggal sahabat menikah..
Tapi untuk kali ini, sangat berat.
Berat sekali.
Karena konsekuensinya, terlalu berat rasanya.
Konsekuensi kehilangannya terlalu besar.
Kehilangan yang tak tergantikan.
Saya pernah merasakannya.
Dulu, 18 tahun lalu.
Dulu, memang bukan telinga ini yang mendengar dua kalimat berat itu.
Tapi konsekuensi dari jawaban yang dilontarkan dari permintaan "Ikhlaskan saja" itu turut saya alami.
Realy hard to do.
Yup.
To live without a figure of a father.
But, alhamdulillaah, He gives me a lot of things to make me survive...

Lalu sekarang,
Pertanyaan itu datang langsung pada saya.
Sayangnya, jawaban saya tidak akan terlalu berarti.
Saya hanyalah seorang cucu.
Anak kecil.
Jadi, jawaban "tidak" dari saya tidak akan mengubah apapun.
Ketika satu malam berlalu, Allah memberi saya banyak kesempatan untuk merenung.
Ketika saya kembali mengingat wajah beliau, ditengah perjuangan beliau, menatap saya lebih lama dari yang beliau bisa,,
Seketika hati saya rasanya hancur.
Bagaimana saya bisa turut mengiyakan "ikhlaskan saja" dengan adanya tatapan itu?
Dan hati saya pun luluh.
Bagaimana saya tidak turut mengiyakan "Ikhlaskan saja" itu, dengan adanya tatapan itu?
Karena saya tak tahu, saya tak berani lebih dalam menelaah tatapannya, apakah itu berarti beliau masih sanggup berjuang, atau beliau merasa sangat kesakitan dan beliau ingin menyudahinya.
Entah.
Entah.
Saya tak ingin kehilangan beliau, saya masih ingin menikmati kebersamaan dgn beliau meski hanya ketika hari raya.
Tapi saya pun tak ingin beliau terus merasakan kesakitan itu.
Ya Rabb,,
Jadi, kini, saya serahkan pada Allah saja.
Saya hanya berharap, apa yang akan terjadi adalah yang bisa membuat beliau bahagia dan diberkahi.
Apapun itu.
Sepahit apapun konsekuensinya untuk saya.
Apapun Ya, Rabb..
For her happiness...
Saya ikhlas...

#I want the world to know, that I love you, Grand Ma..
Sembuhkanlah ia, Ya Rabb...