Rabu, 03 Juni 2015

When it's gone,,

Just  search again...

Just it.
Don't take too much time wondering.
And asking why.

Just search it again.
Again
And again.
Untill we found it.
Own it.
Once again

Minggu, 29 Maret 2015

Catatan kecil Bandung-Bogor

Hujannya turun deras.
Rok yang kukenakan disapanya.
Tak luput tentu, kaos kaki krem motif bunga yang membungkus kaki ku.
Jadi tertegun, kenapa dulu aku membeli sepatu teplek dengan model bolong-bolong ini...
Mana bagian solnya sudah patah.. Lengkap sudah pertemuan antara alas kaki dan genangan air itu.

Tapi, tak apalah. Mungkin itulah cara langit menyambut ku di terminal Leuwi Panjang ini.
Bis biru kotak-kotak, berplang mini dengan tulisan "Bandung-Leuwiliang", seakan tersenyum manis.
Anggap saja demikian.
Meski dengan kepala yang belum ada ide ini aku berangkat menjelang kampus,, setidaknya pikiran positif bisa banyak membantu.

Bis biru melaju anggun.
Melewati genangan, alias banjir, setinggi 15-20 cm di jalanan Soekarno-Hatta.
Sesampainya di pintu tol Pasir Koja, mentari tersenyum.
Ini bukan hanya anggapan ku.
Tapi memang ia bersinar lembut.
Tanpa tangisan langit.
Mungkin, seperti itu pula perjalanan ku kelak.
Hujan deras, lalu cerah.
Mungkin, aku hanya perlu berjuang lebih lagi, sedikit lagi, sebentar lagi, lalu aku bisa menemui senyum mentari itu *ngarep. Hahaha

Ya,, anggap saja demikian.
Anggap saja tinggal sebentar lagi, sedikit lagi.
Karena toh, "Innaa ma'al 'usri yusroo.."
Bersama kesulitan, ada kemudahan..

:)

Selasa, 10 Maret 2015

Sebuah kekhawatiran kecil,

Ketik.
Hapus.
Ketik.
Hapus.
Ketik.
Hapus.

Entah berapa kali aku lakukan itu.

Undo.
Redo.
Undo.
Redo.
Undo lagi.

Begitu terus.
Entah kapan proposal ini akan "jadi".

Aku terus menerus meyakinkan diri; Ketik saja semua yang terlintas. Tak usah perhatikan, apakah kalimat yang ku ketik ada kaitannya dengan kalimat sebelumnya. Apakah orang akan memahami yang aku maksudkan. Do not even think about it. Just type...

Tapi tetap saja.
Aku mengetik, lalu ku hapus.

Tiba-tiba saja, terlintas rasa itu.
Perasaan tak jelas; entah sedih, membesarkan hati, atau pura-pura tegar.

Rasa yang datang setelah "ditolak".

Sahabatku bilang, seharusnya aku sudah kebal dengan rasa itu.
Toh, lima atau enam tahun lalu, aku sudah berkali-kali ditolak.
Padahal, aku sudah (rasanya) berjuang dengan keras.
Jadi, ketika sekarang-sekarang ini aku pun "ditolak", tak semestinya aku merasakan seperti itu.

Tapi sayang, Sahabat,, aku masih merasakan perasaan itu. Perasaan yang muncul setelah "ditolak".
Bahkan, saat ini, perasaan itu telah berubah menjadi suatu kekhawatiran.
Ia bahkan muncul sebelum "ditolak" itu terjadi.
Dan ia, yang menjadikanku terus menerus mengetik, lalu menghapus.
Undo, redo.

Wae irokkae?
Nan, mola.

It just happen.

I write, and i'm affaraid i'll be rejected.

But onething i know for sure.
I can not stop to write. Even if i have to type, delete, undo and redo again.
Cause i can do anything, but hope, try n pray...

#semangatjatuhlalubangkit, Kawan.. ^^
#salambuattesis :)

Minggu, 07 Desember 2014

Twenty Seven Something...

Twenty Seven.

Diiringi sebuah lagu romantis milik pianis Korea, Yoon Han,, "Marry Me".



Tak terasa, Desember sudah sampai di hari ke delapannya (lihat di pojok kanan bawah leptop).
Dan saya masih menerka-nerka, ini hari apa ya?
:)
Sejenak menyangka ini Selasa,
Eh, Rabu..
Tidak,, kemarin baru Ahad,,
Jadi, ini Senin..

Beberapa hari menjelang tahun 2015.
Masih 2014.
Sebuah kumpulan angka yang menyusun angka27 ketika dikurangi tahun lahir saya.

Hm,,
betapa waktu bergulir cepat ya..
Dan "waktu tak akan berjalan mundur",, kata Mas Rangga di mini drama AADC (dah pada nonton kan?) :p

Benar, waktu tidak akan berjalan mundur.
Tapi kenangan bisa dipanggil kembali.

Selama dua puluh tujuh tahun lebih ini bernafas,, betapa banyak hal yang pernah saya lakukan.
Black memories,, white memories,, blue memories,, red memories.. and another colors..

Kenangan-kenangan yang menyenangkan, mengundang senyuman, bahkan tawa.
Kenangan-kenangan yang mengharukan,
Kenangan seperti itu tentu akan selalu saya simpan.

Demikian juga kenangan-kenangan biru yang membuat air mata tak berhenti mengalir.
Sulit memang untuk dipanggil kembali. Ada semacam rasa yang tak disuka hadir kembali,, (bukan varian rasa baru mie instan ya..)
Suatu rasa yang mengucap penyesalan, kata maaf, atau bahkan rasa bersalah yang tak menemui ujung.

Tapi, saya pun akan tetap menyimpannya. Treasure it for sure.
Karena kenangan itu membuat saya merasa hidup.
Kenangan-kenangan itu memberi saya satu peringatan keras, betapa saya tidak boleh mengulanginya lagi.
Jangan sampai berduka dua kali karena hal yang sama.

Ya.
Twenty seven something,
Di twenty seven something ini, saya merasakan betapa banyak episode hidup yang sudah saya jalani.
Memperoleh banyak hal,
dan kehilangan kesempatan untuk dititipi banyak hal juga..

Twenty seven something yang membuat saya (akhirnya) bisa belajar menghadapi banyak hal berdasarkan pengalaman yang pernah berlalu.

Twenty seven something. menjadi angka dimana saya bisa lebih menghargai setiap orang yang pernah lewat, berada, atau hanya sekedar muncul dalam hidup saya.
Apapun goresan yang mereka torehkan, saya berterima kasih atas kehadiran mereka,, atas apa yang telah mereka ajarkan.
Terima kasih.

Hm,,
benar-benar,,
2014 ini menghadirkan 27 something yang sangat berharga.

Semoga, teman-teman juga bisa merasakan Twenty seven something  juga, kelak...



Happy Twenty seven something, My Rose...

:)







Senin, 17 November 2014

Catatan Tugas Akhir (Bagian 1)

Ini sudah pagi.
MasyaaAllaah.
Maw masih bisa melek di jam ini.
Di laptop, tertera jam 1:07.
Masih terbangun,, soalnya koneksi internet yang oke ya jam segini.
Kata Neng Diah,, koneksi di jam 00-06 pagi tu paling cepet...
Dan alhamdulillaah memang iya.

Terus, untuk apa koneksi internet cepatnya?
Download film?
Yup,, benar sekali,, hehe
Sambil nyari bahan untuk usulan penelitian.
Jadi, nyari bahannya itu sambilan,, :D

Hehe,,, boleh ditiru boleh nggak..
Tapi, sebelum meniru apa yang akan diketikkan di bawah ini, baiknya pembaca berpikir baik-baik.
Apa itu?
Begini,,
Sebelumnya Maw ceritakan dulu sebuah perbincangan di sebuah perjalanan Oktober lalu.
Alkisah, ketika kembali dari sebuah perjalanan di hari itu, Maw dan teman-teman mengalami kejadian tersasar. Yup. Nyasar dan berputar-putar di ibukota Jakarta.
Walhasil, baru masuk jalan bebas hambatan di jam 21 atau 22 an (g behitu ingat, hehe..).
Lalu mampir di suatu tempat hingga masuk kembali ke jalan bebas hambatan di sekitar pukul 23.
Lelah? Alhamdulillah.
Selain lelah, Maw ngantuk. Apalagi pengemudi mobilnya ya?
Karena khawatir pengemudi mengantuk dan terjadi hal yang tidak diinginkan, jadi Maw tawari beliau untuk menepi di rest area untuk istirahat.
Tapi, Maw ditolak ^^"
Dia bilang,, kalau dia istirahat, nanti susah lagi "on"nya,, malah tambah ngantuk lagi..
Oooh,,
Jadi, kami hanya ke rest area untuk ke kamar mandi dan membeli beberapa gelas kopi.
Singkat cerita, alhamdulillaah Maw selamat sampai kosan di sekitaran jam 24.

Nah,, dari cerita itu, Maw terpikir tentang sebuah kisah lain di perjalanan sekolah Maw.
Teringat, Sekitaran Juni lalu,,  menghadap dosen pembimbing,, mengajukan sebuah usulan penelitian.
Yang ternyata,, temanya sama dengan tema penelitian mahasiswa S1 yang juga dibimbing beliau.
Saat itu, Bapak menawarkan untuk tetap dengan tema yang sama, tapi diperbaiki agar tidak sama dengan mahasiswa S1 itu.
Tapi, Maw pikir, tidak enak... nanti dituduh plagiat pula..
Jadi, saat itu Maw putuskan untuk mencari tema lain.
Bapak menawarkan kesempatan lain,, yakni berpartisipasi dalam proyek yang sedang beliau tangani.
Maw terima,, tapi harus mencari tema sendiri.

Saat itu, Maw sebenarnya lumayan mengalami down mental. Usulan penelitian yang sudah disusun sampai berbentuk proposal [meski Bapak bilang belum sempurna],, selama hampir sesemester lamanya,, tidak bisa dilanjutkan... Lalu Maw memutuskan untuk pulang kampung dan beristirahat. Sambil mencari tema apa yang tepat.

Tapi, sepertinya Maw terlalu terlena dengan istirahat itu. Hampir dua bulan lamanya berproses dengan pikiran diri sendiri,, 'hanya' menghasilkan dua lembar resume usulan penelitian baru yang Maw ajukan ke Bapak di awal Nopember.
Dan reaksi Bapak,, hm... Maw beri istilah.. "separuh nafasku pergi"
^^
Cukup untuk membuat tidak fokus dan merasa 'sesuatu' selama hampir setengah hari setelah pengajuan resume usulan penelitian kedua.

Lalu 'galau' selama beberapa hari.

Hm,,sepertinya, Maw terlalu lama beristirahat,, jadi susah lagi "on" dengan usulan penelitiannya..
Gurae..

Mungkin, lain kali, kalau-kalau usulan penelitiannya harus diperbaiki lagi,, Maw harusnya hanya ke kamar mandi sejenak dan membeli kopi saja di rest area,, lalu kembali berkendara.
^^.


Demikian catatan tugas akhir bagian 1 ini.. semoga bisa diambil hikmah terbaiknya :)
Yosh!
Ganbatte kudasai ^^//


Selasa, 16 September 2014

Perempuan dan Penghidupan

Perempuan dan penghidupan.
Sebuah pesan muncul di whats app grupku yang selalu ramai setiap hari, padahal isinya hanya berlima.
Ku kira, hanya pesan biasa. Percakapan antara lima anak perempuan yang bersahabat sejak lama.
Tidak.
Pesan itu istimewa, setidaknya bagiku.
Mengingatkanku akan suatu hal.
Pesan itu cukup panjang. Sangat panjang malah.
Isinya, tentang cuplikan sebuah talk show di sebuah stasiun tv, Mata Najwa.
Edisi kali itu, bintang tamunya adalah seorang srikandi abad 21, walikota Surabaya.
Kenal?
Tidak. Saya hanya tahu beliau.
Ibu Risma yang saya tahu dari media.
Beliau saat ini sedang berjuang menutup sebuah lokalisasi di daerahnya.
(Berkebalikan dengan  seorang wakil gubernur metropolitan Indonesia yang malah berniat membuat lokalisasi di wilayahnya)
Sebuah lokalisasi, yang terjadi atas dalil buruknya keadaan ekonomi.
Lalu ‘terpaksa’ self-selling
Dan yang umumnya ‘dijual’ adalah perempuan.
Entah karena ‘dipaksa’ atau memang ‘atas kesadaran diri sendiri yang berkebutuhan secara ekonomi’.
‘Tak ada jalan lain’
‘Tak punya pendidikan’
‘Tak punya pilihan lain’
Dan entah kenapa, yang self-selling sebagian besar adalah perempuan.

Ayah mereka kemana? Berjuang menggapai rezeki di tempat lain atau bagaimana?
Suami mereka kemana?
Atau mereka memang ‘tidak punya’ ayah, apalagi suami?

Teringat kembali ucapan mama beberapa hari lalu.
Cerita beliau tentang salah satu kenalannya, yang bercerita tentang keadaan usahanya berjualan di pasar tradisional.
Kenalan mama itu bilang, “Nya kitu we, Bu. Diusahakeun we, da pami henteu mah bade kumaha.” (Ya, begitu saja, Bu. Diusahakan saja, karena kalau tidak begitu mau bagaimana.)
Lalu mama bertanya tentang suami ibu itu. Dan ia berujar bahwa sang suami bekerja sebagai tukang ojek, ketika ia mau. Ketika lain, hanya beristirahat di rumah.
Alhamdulillah,, meski keadaan ekonomi ibu itu kurang, beliau masih berusaha berdagang di pasar tradisional dan tak sampai harus self-selling.
Meski saat itu keningku berkerut, kenapa suaminya hanya berusaha sedemikian?
Mungkinkah para perempuan yang bekerja di lokalisasi itu tidak dibiayai suaminya, lalu buntu akal melakukan self-selling?

Aku tak boleh menyimpulkan tanpa bukti dan data yang benar.
Teringat pula sebuah quote pada media sosial yang tak sengaja ku baca.
“Perempuan terbuat dari tulang rusuk. Jangan jadikan ia tulang punggung.”
Seratus persen aku setuju dengan quote tersebut.
Karena dalam hal berumah tangga, memang kewajiban menjadi tulang punggung bukan berada pada bahu perempuan.
Tapi, apa kenyataannya?
Di luar sana, masih banyak para perempuan yang terpaksa atau sukarela, menjadi tulang punggung.
Alhamdulillah, ketika pilihan usahanya masih berada dalam koridor norma kemasyarakatan (minimal). Nau’dzubillah, ketika pilihan usaha itu telah carut marut dalam jurang … (tidak tega menuliskannya).

Well, karena aku sendiri memang tumbuh pada keadaan orang tua single parent fighter, maka aku sangat menghargai para perempuan yang berjuang menjadi tulang punggung keluarganya; karena kebutuhan.
Dan aku tak pernah bisa menyalahkan kaum perempuan yang berkebutuhan ekonomi untuk menjadi itu.
Ketika memang sudah tidak ada sosok adam yang menjadi tulang punggung.
Tapi sangat disayangkan ketika pilihan para perempuan tangguh itu adalah jurang …
Ayolah,, betapa banyak pekerjaan lain yang bisa dijalani untuk medapat penghidupan.
Seperti sosok ibu yang menjadi pemulung, yang ku lihat malam tadi.
Bersama, mungkin, anaknya, berbekal karung putih bekas, mengais setiap tumpukan sampah di jalan dan emper toko.

Terlintas satu pikiran, akankah aku seberani beliau dipandang sebelah mata oleh orang lain, dianggap ‘hina’, demi mencukupi kebutuhan hidup ketika suatu saat nanti (mungkin) aku tak punya jalan lain menjemput rizki dariNya?
Atau malah (naudzubillahimindzallik) memilih menjadi ‘simpanan’???
Naudzubillaahimindzalik..
InsyaAllah bukan keduanya.

Aku pikir, tidak akan terjadi kedua hal itu, insyaAllah, ketika seseorang terdidik.
Terdidik, bukan ter-sekolah.
Maksudku, terdidik tidak selalu berarti harus sekolah.
Pendidikan bisa diperoleh di rumah, kan?
Dari seorang ibu.
Madrasah pertama seorang anak.
Pendidikan tentang tauhid.
Pendidikan tentang hidup zuhud, sehingga kebutuhan ekonomi berjalan normal. Tidak berambisi memiliki hal-hal yang memang tidak perlu. Mobil mewah, untuk apa? Untuk dijual lagi, mungkin J
Gadget terkini, padahal tidak tahu juga mengoperasikannya, hanya turut trend.

Jika persoalan lokalisasi itu diurai menjadi pohon masalah, entah berapa cabang yang akan terjadi.
Lokalisasi itu tak serta merta karena kebutuhan ekonomi.
Ia terbentuk dari banyak hal,
Jiwa yang tak beragama,
Jiwa yang tak terdidik,
Lingkungan yang buruk,
Jerat rentenir,
Pendidikan wirausaha,
Realisasi amanah pemerintah untuk menanggungjawabi fakir miskin dan anak terlantar,
Penyediaan sekolah yang berkualiltas,
Penyuluhan wirausaha,
Kelembagaan ekonomi masyarakat,
Empati antar masyarakat,
….
Ya Allah,, semoga Engkau berkenan melimpahkan kekuatan dan keberkahan bagi mereka-mereka yang berjuang untuk mencari penghidupan yang Engkau ridhai..
_Selintas pikiran…_






Jumat, 12 September 2014

From Lucy

Suatu ketika di ahad yang cerah,,
tumben-tumben-an my little baby panda (my little brother) mengajak saya nonton.
Benar-benar suatu ketumbenan.
Apalagi, dia bilang dia yang akan membayar tiket nontonnya,,
Subhanallaah kan?
Tidak biasanya dia menawari menraktir akaknya ini, hehehe...
Entah ada angin apa..

Singkat cerita, saya berangkat dari dramaga dan sampai di BTM pada pukul 10.10 wib.
Wuish,,, Ingat sampai ke menitnya,..!
Tentu ingat,,
Kenapa?
Karena saat itu kami janjian bertemu pukul 11.00.
Jadi saya sempatkan mengecek jam kalau-kalau sudah dekat jam 11.
Ternyata saya kepagian, sodara-sodara..
Bagus kan? Jadi saya tidak terlambat.
Dan lebih bagusnya lagi,, adikku sayang itu baru sampai di stasiun pasar minggu *katanya.
Itu berarti saya harus menunggu lebih lama..
Awalnya tidak apa-apa,, toh memang jam janjian kami masih ada beberapa saat.
Tapi ternyata,, dia telat sampai 40 menit lebih dari jam 11..
Hffhfhf...
(Rasanya ingin makan eskrim..)
Jadi curiga,, jangan-jangan dia membalas saya karena aku membuat dia menunggu lama saat saya memintanya menemani belanja kado nikahan teman.
*Impas deh Bro..

Well, bukan itu cerita intinya, Gals...
Cerita intinya adalah tentang hikmah dari film yang kami tonton.
Judul filmnya adalah LUCY.
Aktor utama yang berperan di film tersebut adalah Morgan Freeman.
Awalnya kami akan menonton film yang lain,,
Tapi film tersebut tayang jam 13an dan akan berakhir di 15.40 wib.
Artinya akan melewati waktu awal shalat ashar.
Jadi kami memilih film LUCY.
Selain itu, bagi saya, Morgan Freeman seperti stempel yang menerangkan bahwa film tersebut sangat layak ditonton. :)
Dan saya sangat tertarik dengan penjelasan dari film tersebut.
"Seseorang yang akan mengoptimalkan pemakaian otak hingga 100%"
Keren kan?

Sinopsis singkat film ini,,
Berisi tentang seorang perempuan bernama LUCY yang berkenalan dengan seorang pria di China.
Pria kenalannya itu memintanya mengantarkan sebuah koper dengan iming-iming bayaran 500 dolar.
Lucy menolak,, tapi pria itu memaksanya dengan memasangkan borgol di tangannya yang dipasangkan dengan koper,
Walhasil Lucy harus mengantarkan koper itu.

Dengan cukup ketakutan, Lucy mengantarkan koper itu,, yang ternyata berisi sejenis narkotika baru.
Saya lupa nama narkotika baru itu, tapi itu merupakan duplikasi sintetik dari suatu zat yang diproduksi ibu hamil dan diberikan pada janinnya.
Zat tersebut (atas izin Allaah) memberikan energi yang sangat dahsyat untuk membentuk dagung, tulang, menyambung syaraf, dan lain-lain.
Dosis zat yang diberikan ibu terhadap janinnya tersebut hanya sedikit.

Setelah mengantarkan koper, Lucy dipaksa menjadi kurir narkotika tersebut oleh si Gengster *sebut saja demikian).
Ini adegannya seram,, karena narkotika itu dimasukkan ke dalam perut Lucy.
Meski tidak diperlihatkan proses pembedahannya,, tetap saja terasa ngilu.

Lucy dikirim ke daerah Taiwan.
Malangnya, receiver narkotika di Taiwan malah menyiksa Lucy,, menendangnya tepat di perutnya.
Kantong narkotika di dalam perut Lucy robek dan isinya teresap ke dalam tubuh Lucy.
Dari sini awal proses penggunaan otak 100% itu dimulai.


Di sisi lain, Morgan Freeman berperan sebagai seorang profesor yang meneliti tentang penggunaan otak.
Di dalam kuliah umumnya, beliau menjelaskan berbagai keadaan yang bisa dilakukan seseorang pada taraf penggunaan otak tertentu.
Ketika seorang manusia menggunakan 20% kapasitas otaknya, maka dia bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, seperti aliran darah atau metabolisme.
Ketika seorang manusia mengguanakan 30 % otaknya, maka dia bisa mengendalikan orang lain.

Adegan-adengan ketika Lucy mengalami proses peningkatan kapasitas otak ini sangat mengagumkan.

Lucy yang kebingungan dengan keadaan tubuhnya, menghubungi Prof Morgan.
Cara ia menghubungi Prof Morgan pun sangat luar biasa. *tonton sendiri deh, hehehe.
Dalam percakapan itu, satu hal yang sangat bagus *menurut saya.
Yakni ketika Lucy bertanya,
"Apa yang harus saya lakukan dengan semua ini?"
Sang Profesor menjawab, yang intinya,,
Dalam kehidupan ini, seorang makhluk bisa memilih untuk menjadi 'abadi' dengan menghancurkan dirinya sendiri,, sehingga tidak ada ia yang lainnya di dunia ini.. (ini adalah pilihan ketika lingkungan tidak sesuai untuk kehidupannya),,
Atau mewariskan segala kebaikannya pada generasi selanjutnya.
Maka,, wariskanlah."

Ketika itu, saya kira Lucy akan mewariskan gennya atau apa,,
Ternyata, Lucy mewariskan semua pengetahuan dan pengalaman yang terjadi pada dirinya dan tubuhnya.
ia wariskan melalui sebuah flashdisk canggih,, yang kemudian dia berikan pada Prof Morgan.
Lalu ia melebur dengan alam.
Dan berkata.. "I'm everywhere.."

:)

That is.
Wariskan kebaikan pada yang lain.
Wariskan.
Apapun kebaikan itu.
Ilmu,
Senyuman,
Doa,
Kebaikan.


^^

Jzk khair atas traktirannya, Bro.. ^^