Rabu, 09 Maret 2016

Dua Sisi Kompetisi

Dua sisi.
Bagiku, kompetisi itu selalu tentang dua sisi.
Kompetisi dengan orang lain.
Dan,
Kompetisi dengan diri sendiri.

Dua-duanya melelahkan. Bisa membuat depresi, malah...

Kompetisi dengan orang lain, bisa jadi satu hal yang tidak adil.
Karena latar belakang, kemampuan dan banyak hal lainnya yang bisa saja berbeda.
Tidak homogen,, sehingga hasil kompetisinya bisa acak; random.


Kompetisi dengan diri sendiri,,, lebih melelahkan.
Apalagi jika si-diri terlalu memanjakan dirinya sendiri.
Terlalu banyak pemakluman,, terlalu banyak memaafkan dirinya.

Kompetisi dengan orang lain, alat ukur keberhasilannya kadang absurd.
Sukses bagi seseorang, tidak berarti sukses bagi orang lain.
Memiliki IPK empat poin nol-nol, mungkin tidak berarti apa-apa bagi seorang aktifis yang bisa tersenyum lapang ketika apa yang ia perjuangkan di bangku resesi bersama Rektornya tercapai.

Kompetisi dengan diri sendiri,, alat ukur keberhasilannya juga absurd.
Sukses bagi diri sendiri,, lalu merenung kembali, dan timbul rasa tidak puas.


Rumit?

:)

It's ok.
Just live with it.
Both of them.

Dicoba saja.
Tak pernah salah untuk mencoba,,
Berkompetisi untuk sama-sama sukses dengan orang lain dan menantang diri sendiri agar menjadi lebih baik di hari esok.

Berjuang, sayang..
I'll root for you.

Hwaiting ^_^// *lambaipompom

Rabu, 03 Februari 2016

Saya, dan sesuatu yang bernama kedewasaan.

:)

Jika orang melihat angka lahir di kartu identitas saya,orang (mungkin) akan serta-merta berkata; saya sudah dewasa.
Sebuah kata halus untuk "ageing". ^^

Karena memang, sebuah angka yang besar tak pernah menjamin kedewasaan.

Just look at me.

Am I mature enough for a person at their late 20-ies?

Big NO.

I admit it.

Not proudly, but, hey.. i couldn't deny it.
That's the real.

Meski mungkin bagi beberapa orang, saya sudah termasuk dewasa,, karena defini dewasa kita berbeda.

Bagi saya, dewasa adalah ketika seseorang bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Tahu alasan yang mendasari setiap keputusan dan tindakannya sendiri,, dan teguh dengan itu.
dan keputusan serta tindakan itu adalah keputusan dan tindakan yang tidak hanya tidak akan merugikan diri sendiri tapi juga orang lain.

Menjadi dewasa, bagi saya, adalah ketika seseorang bisa mengerti dan memahami benar apa yang akan ia lakukan di saat berikutnya.

Menjadi dewasa, adalah ketika seseorang memiliki rencan tentang apa yang akan dilakukannya ketika detik berlalu,,bukan hanya ikut mengalir menaiki perahu waktu.

Dan untuk semua kategori dewasa itu,,,
I'm not there, yet.

Hopely, tomorow I'd be.

It might, right?




Senin, 16 November 2015

What should and shouldn't, now...

:)
Aku tahu, ini adalah sebuah kebodohan yang nyata.
How could I be so stupid like this,,, being frightened by something that i shouldn't be.
But, what could I say?
It just happened.
Made me clearly opened eyes until 2 in the morning, or sometime, worst.
Couldn't sleep at all.
Stupid right?

I know.
It is.

Yes,,
I realized that this episode is happen again.
An episode where i would run from the reality and hide behind my reason of "take a rest" or "understanding my self".
Which is, it's ok, but not this long.

You know,
ada satu waktu dalam hidup yang membuat seseorang merasa begitu lelah, fisik dan mental.
Dan salah satu jawaban terbaik untuk episode itu adalah "rehat sejenak".
"Sejenak" bagi setiap orang itu relatif.
Satu hari, dua hari, satu pekan, dua bulan, lima tahun..
Tak tentu sama satu dengan yang lain, aku dengan yang lain.

It's OK.
Setiap orang boleh "rehat sejenak".
Boleh.

Tapi, satu hal yang aku khawatirkan.
That I never wanna going back,, and run from what I should faced of forever..

That I shouldn't, right???

Cause if I run away, it means I was lost, to my self.

Dan satu hal yang tak boleh terjadi, adalah kalah dari dirimu sendiri.
Tak masalah ketika orang lain bergitu jauh di depan,,
"memiliki" apa yang "belum" atau tidak akan pernah aku miliki.
Tapi kita tak boleh menyerah atas usaha dan keyakinan bahwa Allah memberi kita beban disertai bahu yang kuat untuk menopang beban itu.

Klise???
Really.

But, that just right.

Common, Dear...
Let's get out the coach,, and move up...

Fighting!!!

Senin, 26 Oktober 2015

Salam dari Tokyo...


Sebuah foto yang membuatku ingin segera lulus.

Bisa bca apa yang tertulis di secarik kertas di foto itu?

"Grup ini sudah move on, ada salam dari Tokyo. Kapan bareng kesini?"

Itu kalimatnya.
Dan aku baru 'hanya' bisa menjawab dengan senyuman dan helaan nafas.

Kapan ya, Kumand?

Aku ingin sekali bisa melihat tower itu secara langsung. Satu diantara lima tower yang ku impikan bisa ku lihat langsung.

Kapan ya?

Semoga segera, ya, kawan..

Aamiin...

Oh ya,, ini adalah salah satu cara ku menyapa berbagai tempat di dunia,, dengan menitipkan salam pada kenalan yang akan pergi ke daerah itu.

Menyampaikan salam, berharap suatu saat nanti aku sendiri yang akan mengucapkan salam secara langsung.

You can try it too,, freely.. ^^


NB: Photo's Copy right @kumand_GrupIniSudahMoveOn


Sabtu, 03 Oktober 2015

Welcome back, my beloved insomnia...

12.30 AM.

:)

Jam dijital di sudut laptopku memberikan angka itu.

:)

Yeay!

Another sleep-lack night..

:)

Should i cry?
Or should i smile?

Hmmm,, cause crying it's a little bit (you know..),, so we better just smile, right?

:)

Another insomniac night.

Sashil,, nae neun molla yo,,
Kenapa aku bisa menjadi salah satu dari makhluk nokturnal.
Kenapa aku bisa lebih fokus dengan apa yang [akan dan niatkan] untuk aku lakukan ketika jam sudah menunjukkan angka diatas 10 PM,,,

Tidak baik, memang...
Memiliki sleep-lack night setiap hari.
Hajiman,,, eottokae?
What should I do?

Berbaring di tempat tidur tidak banyak membantuku untuk segera tertidur.
Sampai beberapa hari yang lalu, aku hanya membaringkan badan di tempat tidur,, membolak-balikkan badan, berharap segera terlelap.
Tapi, kemarin, sahabatku menyarankan ku untuk mengerjakan 'upaya kelulusanku' saja ketika insomnia itu kembali.
Benar.
Ia benar.
Dengan mengerjakan 'upaya kelulusan' ini, setidaknya sleep-lack night ini bisa jadi salah satu beloved night,, right?

So,,
I'll say,,

"Welcome back, my beloved insomnia..."


Rabu, 16 September 2015

Best friend comes to be alarm :)

Pernah, suatu hari, seorang sahabat purba, alias sahabat di jaman dahuu kala which is now is not the same again,, bilang:
"tiati,, ntar malah kelupaan.."
Lalu, dengan enteng nya saya bilang. "Ngga lah,, bakal inget terus kok."

Tapi ternyata,, jreng jreng...
Apa yang dia pernah bilang menjadi kenyataan.
Saya lupa.
Saya lupa kalau pernah punya satu impian penting.
Dan sekarang saya sudah lupa bagaimana rasanya dulu saya begitu antusias memiliki impian itu.

Alhamdulillaah,, ada yang mengingatkan saya tentang impian itu.
Hanya dengan dua kata yang ia kirim via wa saat itu.

:)

Di suatu malam yang lain,, saya tidak bisa memejamkan mata hingga terlelap meski jam di hp *maaf, saya tidak punya jam dinding, jam meja maupun jam tangan.. #gmintadibeliinsii.. :p ; sudah menunjukkan pukul dua pagi. Saint hour,, 2AM,, temennya Ok Taecyon Oppa.. :D

Kalau saya terlelap kemudian, saya yakin akan bangun kesiangan dan kemungkinan melewatkan waktu subuh.. Jadi, saya ketikkan sebuah pesan permohonan misscall pada sahabat-sahabat saya di sebuah grup. Memohon agar siapapun yang bangun di jam empat pagi atau jam dekat-dekat waktu adzan subuh menelpon saya dan membangunkan saya.
"Call to wake me up, please.."

Sometime it works,, sometime it does'nt.
Secara saya mengirimkan pesan itu ketika teman-teman sudah tertidur dan mereka baru membuka pesan itu di pagi hari,, bukan di subuh hari..
Adapun seorang teman yang terbangun dan membaca pesan saya,, tapi sayangnya dia terbangun satu jam lebih awal dari waktu permintaan saya untuk ditelpon,, jadilah dia tidak menelpon saya.
And well,, yah. I woke up a little bit later but i still have my time to pray subuh,, masih kebangun jam lima.. :D

Hehe..

There are just two stories about how my best friend became my alarm.
How a best friend could be so beneficial as an alarm to our life.
To keep us in a right way.
To keep us flamed up to catch our dreams.

:)

So, when you have one of them,,best friend,,, keep them well.
At least, in our pray and mind. :)





Sabtu, 22 Agustus 2015

Travelling,,, dan kaki yang tak bisa bebas

Sejak lulus S1, saya diberi anugrah berupa kesempatan bepergian ke beberapa tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya.
Kadang memang keperluan pekerjaan,, kadang memang direncanakan untuk berlibur.
Atau, keperluan kondangan yang diniatkan juga untuk liburan, hehe...

Jika sempat, saya senang berbagi kisah perjalanan itu di media sosial.
Berbagi foto,,
Juga berbagi kesan.

Tapi, satu cerita dari teman melingkar membuat saya sedikit sungkan untuk berbagi perjalanan saya.

Hari itu, pertama kalinya saya bertemu dengan dia dalam lingkaran.
Di pikiran saya,, dia adalah seseorang yang bahagia dengan pernikahannya. Bagaimana tidak,, dia menikah dengan seorang hafidz lulusan luar negeri.
Tapi ternyata,, tanpa ditanya, tiba-tiba dia bercerita bahwa dia merasa tertekan.
???
Dia merasa kebebasannya 'dikekang'.
Kemana-mana selalu diantar,,
Kalau tidak ada agenda kampus,, maka ia hanya menghabiskan waktunya di rumah.
Hweee...
Suaminya menyeramkan.. *menurut saya :p

Setelah mendengarkan ceritanya lebih lanjut,, dia pernah mengalami keguguran,, dan ketika ia hamil,, ia diharuskan bed rest.

Ya tentulah,, dalam pernikahannya yang belum mencapai dua tahun itu,, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Kalaupun pergi-pergi, akan diantar. Mungkin,, suaminya khawatir.

Ok, then her husband is good enough.. #changemymind :)

Tapi romannya dia masih 'rindu' bepergian dan beraktifitas seperti sebelum dia menikah.

Cerita yang hampir sama dilontarkan teman melingkar yang lain,,
Hanya saja, suaminya lebih 'moderat'. Ia masih bisa me-lingkarkan adek-adek di suatu sekolah,, Pun ketika dia punya bayi,,

Tapi, satu mba lingkaran saya menyatakan hal yang berbeda..
Ia bisa jalan-jalan,, mengunjungi guru ngajinya dahulu di luar provinsi dan tetap diijinkan oleh suaminya.
*suami mba jjang! #thumbsup

So,. cerita teman-teman melingkar itu menempel di kepala saya.
Is it really hard to get your own time to have a fresh air once you are married?
Or it just depends on whom you are married to?

Ah, mollaa...

Saya jadi merasa sungkan untuk berbagi cerita perjalanan saya,, khawatir ada sahabat  yang sudah menikah, yang 'kakinya tak bisa bebas",, merasa sedih dan 'terbangkitkan' perasaan terkekangnya atas postingan saya.

Seperti ketika saya berbagi di grup chatting,, dan mendapat respon bahwa ada teman yang belum 'travelling' lagi setelah menikah dan punya anak saat ini.

Apakah share saya membuat dia sedih?
Atau dia hanya mengungkapkan apa yang dia rasa,, dan bukan saya yang memicu 'kebangkitan' rasa itu.
I mean,, perasaan sedih karena 'tidak bisa travelling saat ini' itu memang sudah ada sejak dulu,, bukan menyeruak seketika ia membaca share saya.
Atau itu yang terjadi? Rasa sedih seketika datang ketika membaca postingan saya yang diberi kesempatan travelling,, sementara (saat ini) dia belum bisa.
Atau bahkan ia merasa iri,, atau,, merasa saya menyindir dia,, 'pamer' kepadanya???

*Slap!
Bodoh!
Tidak seharusnya dan tidak sepantasnya saya berpikir bahwa dia "merasa iri,, atau,, merasa saya menyindir dia,, 'pamer' kepadanya???"
Tidak pantas seorang sahabat merasa demikian!

:(

#Maaf, chingu...

Hm...
Saya mencoba merenungi sesuatu.
Antara 'travelling' dan 'kaki yang tak bisa bebas'.
Dan hasilnya,
Saya tersenyum.
Seperti ketika muncul diskusi soal stay at home-mother dan have a carrier outside home-mother...
Atau soal breastfeeding baby dan sufor...
Kesemuanya adalah yang tidak bisa di-hitam-kan satu sisi sementara sisi lain merasa putih.
Maksud saya,, tidak tempatnya untuk merasa salah satu paling benar dan merasa lebih baik dari yang satunya.
Tidak tempatnya pula untuk merasa kalah atas satu yang lainnya.

C'moon, guys..
Travelling atau 'kaki tidak bisa bebas',, both of us must be happy,, and sure, we can be happy.

Kita punya waktu masing-masing untuk setiap episode kehidupan kita.

Show them our brave heart,, that we can be happy at our friend's happiness...

Hwaiting ^^//

Wish you could feel the thrill of canopy trail,, as I did.

Love you always... :)