Minggu, 05 Februari 2017

Selalu ada

Kami ketuk pintu rumah itu.
Salah satu rumah dari deretan rumah kontrakan, berpintu kayu, berdinding tripleks dan catnya yang putih telah tak lagi putih.
Tak ada jawaban.
Kami ucapkan salam,, "Assalamu'alaykum warahmatullaah.."
Jarum jam terus berjalan, tak peduli kami yang masih berdiri di depan pintu itu.
"Assalamu'alaykum... Bapak nya ada?"
Lagi, kami mencoba. Menguji sebuah usaha.
"Bapak tidak ada."
Sebuah suara perempuan yang menjawab.
Aku hanya diam. Antara sudah terbiasa dengan jawaban itu. Atau tidak tahu apa yang harus dilakukan. Atau memang keduanya.
Sepasang tangan yang ukurannya takjauh lebih besar dari tanganku, ku genggam erat. Rasa asing dengan lingkungan dimana aku berada, juga rasa benci,- entah pada tempat aku berdiri, pada perintah Mama agar aku datang ke tempat, pada perempuan yang menjawab pertanyaan kami tadi, atau pada apa,- membuatku tak ingin melepaskan genggaman itu.
Sekali lagi, pemilik tangan yang ku genggam itu berucap.
"Apa Bapak akan segera pulang?"
Tanyanya lagi,, pada perempuan di balik pintu yang tak pernah terbuka setiap kami datang kemari.
Jalan tanah setapak di depan rumah ini adalah tempat yang sama yang aku jejaki setiap kali 'berkunjung'.
"Tidak tahu."
Kami saling berpandang.
Tatapan kami menyiratkan banyak hal.
Ketakutan pulang ke rumah membawa kabar sesuai apa yang diberitahukan perempuan itu.
Kesangsian bahwa apa yang diucapkan perempuan itu adalah benar.
Kebosanan atas jawaban yang selalu sama setiap kali berdiri di depan pintu ini, menanyakan hal yang sama.
Apakah Bapak ada???
Pengalaman berkali-kali datang ke tempat itu mengajari kami dua hal.
Bahwa pintu itu tidak akan pernah terbuka untuk kami,,
Bahwa kami harus segera berbalik badan, karena tak akan ada kalimat mempersilahkan kami masuk untuk menunggu Bapak.
Aku lupa, apakah kami pamit dan mengucap salam sebelum kami pulang dan membawa kecewa, lagi-lagi begitu.. Atau tidak.
Yang aku ingat, kami pulang, dan dalam hati, pertanyaan itu terpatri.
Apakah Bapak ada?
Apakah Bapak ada?
Apakah Bapak ada?
Bertahun kemudian, logika ku menjawabnya.
Bapak tidak ada.
Bapak tidak ada.
Hanya ada Mama.
Itu saja.
Dan bertahun kemudian, sebuah kabar membuatku kembali berpikir.
Kabar itu berucap,, "setiap kali kami berdiri di depan pintu rumah kontrakan berpintu kayu, berdinding triplek yang catnya tak lagi putih itu,, ada seorang lelaki berumur yang bersembunyi di balik dinding triplek kamarnya, berbisik dalam hatinya. Berbisik, 'Bapak ada, Nak. Bapak disini.'...
Kabar itu, membuatku kembali berpikir,,
Bahwa meski tersembunyi dibalik keadaan yang tak pernah bisa anak ini mengerti, Bapak selalu ada.
Bapak selalu ada.
Bapak selalu ada.

05 Feb 2017.

Bapak selalu ada.

Rabu, 09 Maret 2016

Dua Sisi Kompetisi

Dua sisi.
Bagiku, kompetisi itu selalu tentang dua sisi.
Kompetisi dengan orang lain.
Dan,
Kompetisi dengan diri sendiri.

Dua-duanya melelahkan. Bisa membuat depresi, malah...

Kompetisi dengan orang lain, bisa jadi satu hal yang tidak adil.
Karena latar belakang, kemampuan dan banyak hal lainnya yang bisa saja berbeda.
Tidak homogen,, sehingga hasil kompetisinya bisa acak; random.


Kompetisi dengan diri sendiri,,, lebih melelahkan.
Apalagi jika si-diri terlalu memanjakan dirinya sendiri.
Terlalu banyak pemakluman,, terlalu banyak memaafkan dirinya.

Kompetisi dengan orang lain, alat ukur keberhasilannya kadang absurd.
Sukses bagi seseorang, tidak berarti sukses bagi orang lain.
Memiliki IPK empat poin nol-nol, mungkin tidak berarti apa-apa bagi seorang aktifis yang bisa tersenyum lapang ketika apa yang ia perjuangkan di bangku resesi bersama Rektornya tercapai.

Kompetisi dengan diri sendiri,, alat ukur keberhasilannya juga absurd.
Sukses bagi diri sendiri,, lalu merenung kembali, dan timbul rasa tidak puas.


Rumit?

:)

It's ok.
Just live with it.
Both of them.

Dicoba saja.
Tak pernah salah untuk mencoba,,
Berkompetisi untuk sama-sama sukses dengan orang lain dan menantang diri sendiri agar menjadi lebih baik di hari esok.

Berjuang, sayang..
I'll root for you.

Hwaiting ^_^// *lambaipompom

Rabu, 03 Februari 2016

Saya, dan sesuatu yang bernama kedewasaan.

:)

Jika orang melihat angka lahir di kartu identitas saya,orang (mungkin) akan serta-merta berkata; saya sudah dewasa.
Sebuah kata halus untuk "ageing". ^^

Karena memang, sebuah angka yang besar tak pernah menjamin kedewasaan.

Just look at me.

Am I mature enough for a person at their late 20-ies?

Big NO.

I admit it.

Not proudly, but, hey.. i couldn't deny it.
That's the real.

Meski mungkin bagi beberapa orang, saya sudah termasuk dewasa,, karena defini dewasa kita berbeda.

Bagi saya, dewasa adalah ketika seseorang bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Tahu alasan yang mendasari setiap keputusan dan tindakannya sendiri,, dan teguh dengan itu.
dan keputusan serta tindakan itu adalah keputusan dan tindakan yang tidak hanya tidak akan merugikan diri sendiri tapi juga orang lain.

Menjadi dewasa, bagi saya, adalah ketika seseorang bisa mengerti dan memahami benar apa yang akan ia lakukan di saat berikutnya.

Menjadi dewasa, adalah ketika seseorang memiliki rencan tentang apa yang akan dilakukannya ketika detik berlalu,,bukan hanya ikut mengalir menaiki perahu waktu.

Dan untuk semua kategori dewasa itu,,,
I'm not there, yet.

Hopely, tomorow I'd be.

It might, right?




Senin, 16 November 2015

What should and shouldn't, now...

:)
Aku tahu, ini adalah sebuah kebodohan yang nyata.
How could I be so stupid like this,,, being frightened by something that i shouldn't be.
But, what could I say?
It just happened.
Made me clearly opened eyes until 2 in the morning, or sometime, worst.
Couldn't sleep at all.
Stupid right?

I know.
It is.

Yes,,
I realized that this episode is happen again.
An episode where i would run from the reality and hide behind my reason of "take a rest" or "understanding my self".
Which is, it's ok, but not this long.

You know,
ada satu waktu dalam hidup yang membuat seseorang merasa begitu lelah, fisik dan mental.
Dan salah satu jawaban terbaik untuk episode itu adalah "rehat sejenak".
"Sejenak" bagi setiap orang itu relatif.
Satu hari, dua hari, satu pekan, dua bulan, lima tahun..
Tak tentu sama satu dengan yang lain, aku dengan yang lain.

It's OK.
Setiap orang boleh "rehat sejenak".
Boleh.

Tapi, satu hal yang aku khawatirkan.
That I never wanna going back,, and run from what I should faced of forever..

That I shouldn't, right???

Cause if I run away, it means I was lost, to my self.

Dan satu hal yang tak boleh terjadi, adalah kalah dari dirimu sendiri.
Tak masalah ketika orang lain bergitu jauh di depan,,
"memiliki" apa yang "belum" atau tidak akan pernah aku miliki.
Tapi kita tak boleh menyerah atas usaha dan keyakinan bahwa Allah memberi kita beban disertai bahu yang kuat untuk menopang beban itu.

Klise???
Really.

But, that just right.

Common, Dear...
Let's get out the coach,, and move up...

Fighting!!!

Senin, 26 Oktober 2015

Salam dari Tokyo...


Sebuah foto yang membuatku ingin segera lulus.

Bisa bca apa yang tertulis di secarik kertas di foto itu?

"Grup ini sudah move on, ada salam dari Tokyo. Kapan bareng kesini?"

Itu kalimatnya.
Dan aku baru 'hanya' bisa menjawab dengan senyuman dan helaan nafas.

Kapan ya, Kumand?

Aku ingin sekali bisa melihat tower itu secara langsung. Satu diantara lima tower yang ku impikan bisa ku lihat langsung.

Kapan ya?

Semoga segera, ya, kawan..

Aamiin...

Oh ya,, ini adalah salah satu cara ku menyapa berbagai tempat di dunia,, dengan menitipkan salam pada kenalan yang akan pergi ke daerah itu.

Menyampaikan salam, berharap suatu saat nanti aku sendiri yang akan mengucapkan salam secara langsung.

You can try it too,, freely.. ^^


NB: Photo's Copy right @kumand_GrupIniSudahMoveOn


Sabtu, 03 Oktober 2015

Welcome back, my beloved insomnia...

12.30 AM.

:)

Jam dijital di sudut laptopku memberikan angka itu.

:)

Yeay!

Another sleep-lack night..

:)

Should i cry?
Or should i smile?

Hmmm,, cause crying it's a little bit (you know..),, so we better just smile, right?

:)

Another insomniac night.

Sashil,, nae neun molla yo,,
Kenapa aku bisa menjadi salah satu dari makhluk nokturnal.
Kenapa aku bisa lebih fokus dengan apa yang [akan dan niatkan] untuk aku lakukan ketika jam sudah menunjukkan angka diatas 10 PM,,,

Tidak baik, memang...
Memiliki sleep-lack night setiap hari.
Hajiman,,, eottokae?
What should I do?

Berbaring di tempat tidur tidak banyak membantuku untuk segera tertidur.
Sampai beberapa hari yang lalu, aku hanya membaringkan badan di tempat tidur,, membolak-balikkan badan, berharap segera terlelap.
Tapi, kemarin, sahabatku menyarankan ku untuk mengerjakan 'upaya kelulusanku' saja ketika insomnia itu kembali.
Benar.
Ia benar.
Dengan mengerjakan 'upaya kelulusan' ini, setidaknya sleep-lack night ini bisa jadi salah satu beloved night,, right?

So,,
I'll say,,

"Welcome back, my beloved insomnia..."


Rabu, 16 September 2015

Best friend comes to be alarm :)

Pernah, suatu hari, seorang sahabat purba, alias sahabat di jaman dahuu kala which is now is not the same again,, bilang:
"tiati,, ntar malah kelupaan.."
Lalu, dengan enteng nya saya bilang. "Ngga lah,, bakal inget terus kok."

Tapi ternyata,, jreng jreng...
Apa yang dia pernah bilang menjadi kenyataan.
Saya lupa.
Saya lupa kalau pernah punya satu impian penting.
Dan sekarang saya sudah lupa bagaimana rasanya dulu saya begitu antusias memiliki impian itu.

Alhamdulillaah,, ada yang mengingatkan saya tentang impian itu.
Hanya dengan dua kata yang ia kirim via wa saat itu.

:)

Di suatu malam yang lain,, saya tidak bisa memejamkan mata hingga terlelap meski jam di hp *maaf, saya tidak punya jam dinding, jam meja maupun jam tangan.. #gmintadibeliinsii.. :p ; sudah menunjukkan pukul dua pagi. Saint hour,, 2AM,, temennya Ok Taecyon Oppa.. :D

Kalau saya terlelap kemudian, saya yakin akan bangun kesiangan dan kemungkinan melewatkan waktu subuh.. Jadi, saya ketikkan sebuah pesan permohonan misscall pada sahabat-sahabat saya di sebuah grup. Memohon agar siapapun yang bangun di jam empat pagi atau jam dekat-dekat waktu adzan subuh menelpon saya dan membangunkan saya.
"Call to wake me up, please.."

Sometime it works,, sometime it does'nt.
Secara saya mengirimkan pesan itu ketika teman-teman sudah tertidur dan mereka baru membuka pesan itu di pagi hari,, bukan di subuh hari..
Adapun seorang teman yang terbangun dan membaca pesan saya,, tapi sayangnya dia terbangun satu jam lebih awal dari waktu permintaan saya untuk ditelpon,, jadilah dia tidak menelpon saya.
And well,, yah. I woke up a little bit later but i still have my time to pray subuh,, masih kebangun jam lima.. :D

Hehe..

There are just two stories about how my best friend became my alarm.
How a best friend could be so beneficial as an alarm to our life.
To keep us in a right way.
To keep us flamed up to catch our dreams.

:)

So, when you have one of them,,best friend,,, keep them well.
At least, in our pray and mind. :)