Kamis, 23 Maret 2017

Gadis Bireun itu.

(Mantan) calon adik ipar.
Atau, ia lebih suka menyebut 'Calon Adik Ipar Yang Tidak Jadi'.
Badannya kecil.
Imut.
Orangnya lebih suka mendengarkan.
Menanggapi cerewetnya mulut satu ini.
Dan memberi anggukan atau jawaban ketika perlu.

Awal kenal, ketika itu tidak terlalu 'ngeh'.
Kami beda jurusan tadinya.
Lalu terjadi migrasi, dan dia menjadi bagian dari jurusan kami, bersama seorang Gadis Merauke. Akan kuceritakan nanti tentang gadis yang satu itu. Bersama Gadis Sopeng, Gadis Jambi dan Seorang Pemuda Majalengka.

Gadis Bireun itu, meski tidak sering berbicara,- level kecerewetannya agak jauh dibawah kami [baca: Gadis Pangalengan dan Gadis Merauke],, tapi keceriaannya tak kalah manis.
Senyum selalu menghiasi wajahnya.

Ia juga penurut. Ia sukarela memijati bahu dan punggungku yang pegal membawa ransel beriisi kehidupan hampir setiap hari.
Dan ia juga baik. Ia merelakan lengan atasnya ku cubit dan ku gigiti jika sedang 'kambuh'. (dan saat ini tidak ada yang rela lagi..)

Semester pertama, semester kedua, ketiga, dan seterusnya, dan akhirnya aku merasa sangat dekat dengannya ketika semester ini (pokoknya semesternya sudah banyak,, hahaha).
Ketika kami bersama menemani bocah-bocah D3 praktikum,, dia sengaja memundurkan waktu pulangnya hanya untuk menemaniku yang masih harus mengikuti kelas sore. Padahal, ia bisa saja pulang lebih dulu daripada mengkhawatirkanku kesepian sendirian berkeliaran di Kampus Gunung Gede.
Kadang, kami duduk bersama di Halte Telkomsel, menunggu bis Transpakuan yang akan membawanya pulang ke kosannya. Yang berarti waktu untuk menemaniku habis. Aku sengaja berdoa agar jalanan di arah Baranang Siang macet parah,, atau supir bis itu ketiduran, atau apapun agar bis berwarna abu itu tiba di halte ini nanti, dekat waktu kelas sore dimulai,
Kadang, kami berkeliaran di sekitar kampus kota itu, mencoba jajanan anak sekolahan. 
Ketika melihat pohon mangga yang berbuah, pohon nangka juga, ia hanya tersenyum,, kadang juga tertawa, mendengar doaku agar buah-buah itu jatuh dan dapat kami makan. Padahal buah itu masih lama menuju layak panen :)

Ia juga, menjadi salah satu laskar penjaga kobar semangatku menyelesaikan perjuangan di kampus hijau. 
"Insyaallaah kakak bisa."
Padahal, ketika ia berjuangan dalam perjuangannya, bukan aku yang setia di sisinya.

Hatinya begitu lembut.
Ketika itu, salah dua junior kami akan pulang kampung karena sudah lulus. Kampung juniors kami itu sebenarnya, masih satu daerah dengan kampungnya. Sama-sama di Nangroe Aceh Darussalaam,, yang artinya akan lebih mungkin untuk sering bertemu dari pada dengan kami yang lain. Namun ia, menjadi salah satu penangis yang ulung ketika perpisahan itu terjadi. Awalnya ia beberapa kali keluar ruang kumpul kami,, ku kira untuk apa. ternyata ia keluar untuk menitikkan air mata (bukan menangis, katanya).. lalu, ketika akan benar-benar berpisah,, ia juga menjadi salah satu penyalur tangisan yang malah membuat kami geli,, hehe..

Ketika ia akan pulang kampung,, bertepatan dengan aku harus ke kampung halaman dan tidak sempat bertemu. Ia menelpon ku,, lalu berkata-kata sampai jumpa. lalu ku godai; 'jangan nangis ya..'.. 
Setelah beberapa lama mengobrol, dia mengakhiri dan memberikan telponnya pada Gadis Sopeng yang saat itu sedang bersamanya. 
Gadis Sopeng itu bilang,, kalau ia menangis (lagi..)

lalu ia kembali ke Bireun,, mengabdi pada orang tua dan keluarganya.

^_^

Beberapa hari setelah itu, Gadis Sopeng memberi ku sebuh buku. Dari Gadis Bireun. Dan di halaman pertama setelah halaman depan, ada goresan tulisan disana. Dan aku mulai merasa terharu. Aku yakin akan menangis jika membaca tulisan itu. Jadi tidak kubaca, sampai aku siap, hehehe..

Dan sudah ku baca. (Jangan tanya apa aku menangis atau tidak setelah membacanya)..

Gadis Bireun itu sekarang sudah di daerahnya.
Tapi ia juga masih disini. Di suatu ruang dalam hati dan pikiranku (ok, gombal.. hahaha)...


Love you, Ai...
Terima kasih atas semuanya,, 
Barakallaahu... :*


PS: Klo kamu, Gadis Bireun, baca tulisan ini,, jangan nangis ya.. :p

Selasa, 21 Februari 2017

Lentera Alena

Alena terdiam di ujung tebing. Satu tangannya menggenggam erat tali lentera apung yang menyala. Satu tangan lainnya menggenggam bilah kayu yang menjadi pagar pembatas tebing dan laut di bawahnya. Tatapan Alena terpaku pada matahari yang hendak pamit. Sebentar lagi mungkin. Alena mengalihkan pandangannya pada lentera yang ia genggam talinya. Menghadirkan kenangan atas lentera-lentera lain yang dulu pernah ada disana. Dulu, ketika matahari masih sepenggalan naik, ada lebih dari satu lentera yang talinya ia genggam. Sebelum satu persatu menjadi abu, menyisakan satu yang apinya pun tak lagi membara. Meski begitu, cahayanya masih cukup untuk menemani Alena.
Beberapa hari yang lalu, sebuah bisikan bertanya pada Alena. Apakah ia yakin akan berhasil menerbangkan lenteranya ke langit sana? Alena hanya menjawab, "Insyaallaah..". Bisikan itu menyela,, menolak 'insyaallaah' Alena. Lalu menyuarakan berbagai tanya mengapa dan kalimat lain yang Alena hanya mampu terbata membalasnya.
Mata Alena menjadi perih. Dan airmata mengalir begitu saja, saat itu, juga setiap saat kenangan bisikan itu kembali.
Karena apa yang bisikan itu sampaikan begitu benar, Alena tergugu. Karena apa yang bisikan itu sampaikan Alena tak bisa melakukannya, Alena menjadi sesak.
Kembali menatap lenteranya,, lalu matahari yang mulai beranjak pamit, Alena berbisik lirih.
"Allaah,, Lena tak tahu, apakah lentera ini akan terbang tinggi ke langit sana sebelum malam tiba,, Atau ia akan jatuh terjerembab ke laut yang tak berdasar di bawah sana,, ijinkanlah Lena, menjaganya agar tak menjadi abu yang teronggok. Agar ia merasakan melayang meski sekejap. Allaah,, can I have a little hope?”

Minggu, 05 Februari 2017

Selalu ada

Kami ketuk pintu rumah itu.
Salah satu rumah dari deretan rumah kontrakan, berpintu kayu, berdinding tripleks dan catnya yang putih telah tak lagi putih.
Tak ada jawaban.
Kami ucapkan salam,, "Assalamu'alaykum warahmatullaah.."
Jarum jam terus berjalan, tak peduli kami yang masih berdiri di depan pintu itu.
"Assalamu'alaykum... Bapak nya ada?"
Lagi, kami mencoba. Menguji sebuah usaha.
"Bapak tidak ada."
Sebuah suara perempuan yang menjawab.
Aku hanya diam. Antara sudah terbiasa dengan jawaban itu. Atau tidak tahu apa yang harus dilakukan. Atau memang keduanya.
Sepasang tangan yang ukurannya takjauh lebih besar dari tanganku, ku genggam erat. Rasa asing dengan lingkungan dimana aku berada, juga rasa benci,- entah pada tempat aku berdiri, pada perintah Mama agar aku datang ke tempat, pada perempuan yang menjawab pertanyaan kami tadi, atau pada apa,- membuatku tak ingin melepaskan genggaman itu.
Sekali lagi, pemilik tangan yang ku genggam itu berucap.
"Apa Bapak akan segera pulang?"
Tanyanya lagi,, pada perempuan di balik pintu yang tak pernah terbuka setiap kami datang kemari.
Jalan tanah setapak di depan rumah ini adalah tempat yang sama yang aku jejaki setiap kali 'berkunjung'.
"Tidak tahu."
Kami saling berpandang.
Tatapan kami menyiratkan banyak hal.
Ketakutan pulang ke rumah membawa kabar sesuai apa yang diberitahukan perempuan itu.
Kesangsian bahwa apa yang diucapkan perempuan itu adalah benar.
Kebosanan atas jawaban yang selalu sama setiap kali berdiri di depan pintu ini, menanyakan hal yang sama.
Apakah Bapak ada???
Pengalaman berkali-kali datang ke tempat itu mengajari kami dua hal.
Bahwa pintu itu tidak akan pernah terbuka untuk kami,,
Bahwa kami harus segera berbalik badan, karena tak akan ada kalimat mempersilahkan kami masuk untuk menunggu Bapak.
Aku lupa, apakah kami pamit dan mengucap salam sebelum kami pulang dan membawa kecewa, lagi-lagi begitu.. Atau tidak.
Yang aku ingat, kami pulang, dan dalam hati, pertanyaan itu terpatri.
Apakah Bapak ada?
Apakah Bapak ada?
Apakah Bapak ada?
Bertahun kemudian, logika ku menjawabnya.
Bapak tidak ada.
Bapak tidak ada.
Hanya ada Mama.
Itu saja.
Dan bertahun kemudian, sebuah kabar membuatku kembali berpikir.
Kabar itu berucap,, "setiap kali kami berdiri di depan pintu rumah kontrakan berpintu kayu, berdinding triplek yang catnya tak lagi putih itu,, ada seorang lelaki berumur yang bersembunyi di balik dinding triplek kamarnya, berbisik dalam hatinya. Berbisik, 'Bapak ada, Nak. Bapak disini.'...
Kabar itu, membuatku kembali berpikir,,
Bahwa meski tersembunyi dibalik keadaan yang tak pernah bisa anak ini mengerti, Bapak selalu ada.
Bapak selalu ada.
Bapak selalu ada.

05 Feb 2017.

Bapak selalu ada.

Rabu, 09 Maret 2016

Dua Sisi Kompetisi

Dua sisi.
Bagiku, kompetisi itu selalu tentang dua sisi.
Kompetisi dengan orang lain.
Dan,
Kompetisi dengan diri sendiri.

Dua-duanya melelahkan. Bisa membuat depresi, malah...

Kompetisi dengan orang lain, bisa jadi satu hal yang tidak adil.
Karena latar belakang, kemampuan dan banyak hal lainnya yang bisa saja berbeda.
Tidak homogen,, sehingga hasil kompetisinya bisa acak; random.


Kompetisi dengan diri sendiri,,, lebih melelahkan.
Apalagi jika si-diri terlalu memanjakan dirinya sendiri.
Terlalu banyak pemakluman,, terlalu banyak memaafkan dirinya.

Kompetisi dengan orang lain, alat ukur keberhasilannya kadang absurd.
Sukses bagi seseorang, tidak berarti sukses bagi orang lain.
Memiliki IPK empat poin nol-nol, mungkin tidak berarti apa-apa bagi seorang aktifis yang bisa tersenyum lapang ketika apa yang ia perjuangkan di bangku resesi bersama Rektornya tercapai.

Kompetisi dengan diri sendiri,, alat ukur keberhasilannya juga absurd.
Sukses bagi diri sendiri,, lalu merenung kembali, dan timbul rasa tidak puas.


Rumit?

:)

It's ok.
Just live with it.
Both of them.

Dicoba saja.
Tak pernah salah untuk mencoba,,
Berkompetisi untuk sama-sama sukses dengan orang lain dan menantang diri sendiri agar menjadi lebih baik di hari esok.

Berjuang, sayang..
I'll root for you.

Hwaiting ^_^// *lambaipompom

Rabu, 03 Februari 2016

Saya, dan sesuatu yang bernama kedewasaan.

:)

Jika orang melihat angka lahir di kartu identitas saya,orang (mungkin) akan serta-merta berkata; saya sudah dewasa.
Sebuah kata halus untuk "ageing". ^^

Karena memang, sebuah angka yang besar tak pernah menjamin kedewasaan.

Just look at me.

Am I mature enough for a person at their late 20-ies?

Big NO.

I admit it.

Not proudly, but, hey.. i couldn't deny it.
That's the real.

Meski mungkin bagi beberapa orang, saya sudah termasuk dewasa,, karena defini dewasa kita berbeda.

Bagi saya, dewasa adalah ketika seseorang bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Tahu alasan yang mendasari setiap keputusan dan tindakannya sendiri,, dan teguh dengan itu.
dan keputusan serta tindakan itu adalah keputusan dan tindakan yang tidak hanya tidak akan merugikan diri sendiri tapi juga orang lain.

Menjadi dewasa, bagi saya, adalah ketika seseorang bisa mengerti dan memahami benar apa yang akan ia lakukan di saat berikutnya.

Menjadi dewasa, adalah ketika seseorang memiliki rencan tentang apa yang akan dilakukannya ketika detik berlalu,,bukan hanya ikut mengalir menaiki perahu waktu.

Dan untuk semua kategori dewasa itu,,,
I'm not there, yet.

Hopely, tomorow I'd be.

It might, right?




Senin, 16 November 2015

What should and shouldn't, now...

:)
Aku tahu, ini adalah sebuah kebodohan yang nyata.
How could I be so stupid like this,,, being frightened by something that i shouldn't be.
But, what could I say?
It just happened.
Made me clearly opened eyes until 2 in the morning, or sometime, worst.
Couldn't sleep at all.
Stupid right?

I know.
It is.

Yes,,
I realized that this episode is happen again.
An episode where i would run from the reality and hide behind my reason of "take a rest" or "understanding my self".
Which is, it's ok, but not this long.

You know,
ada satu waktu dalam hidup yang membuat seseorang merasa begitu lelah, fisik dan mental.
Dan salah satu jawaban terbaik untuk episode itu adalah "rehat sejenak".
"Sejenak" bagi setiap orang itu relatif.
Satu hari, dua hari, satu pekan, dua bulan, lima tahun..
Tak tentu sama satu dengan yang lain, aku dengan yang lain.

It's OK.
Setiap orang boleh "rehat sejenak".
Boleh.

Tapi, satu hal yang aku khawatirkan.
That I never wanna going back,, and run from what I should faced of forever..

That I shouldn't, right???

Cause if I run away, it means I was lost, to my self.

Dan satu hal yang tak boleh terjadi, adalah kalah dari dirimu sendiri.
Tak masalah ketika orang lain bergitu jauh di depan,,
"memiliki" apa yang "belum" atau tidak akan pernah aku miliki.
Tapi kita tak boleh menyerah atas usaha dan keyakinan bahwa Allah memberi kita beban disertai bahu yang kuat untuk menopang beban itu.

Klise???
Really.

But, that just right.

Common, Dear...
Let's get out the coach,, and move up...

Fighting!!!

Senin, 26 Oktober 2015

Salam dari Tokyo...


Sebuah foto yang membuatku ingin segera lulus.

Bisa bca apa yang tertulis di secarik kertas di foto itu?

"Grup ini sudah move on, ada salam dari Tokyo. Kapan bareng kesini?"

Itu kalimatnya.
Dan aku baru 'hanya' bisa menjawab dengan senyuman dan helaan nafas.

Kapan ya, Kumand?

Aku ingin sekali bisa melihat tower itu secara langsung. Satu diantara lima tower yang ku impikan bisa ku lihat langsung.

Kapan ya?

Semoga segera, ya, kawan..

Aamiin...

Oh ya,, ini adalah salah satu cara ku menyapa berbagai tempat di dunia,, dengan menitipkan salam pada kenalan yang akan pergi ke daerah itu.

Menyampaikan salam, berharap suatu saat nanti aku sendiri yang akan mengucapkan salam secara langsung.

You can try it too,, freely.. ^^


NB: Photo's Copy right @kumand_GrupIniSudahMoveOn