Postingan

New Life.

March 26th 2018.

It was a new day for me.
I graduated, once again.
But I felt something that i know i shouldn't, yet it still there.

I'm no longer a student of an academic institute.
But I'm still learning to live.
And it's harder these time.

People always say; "Welcome to the jungle", to everyone who graduated from school.
But I don't fell like I come to a jungle.
More like a desert, or ....

I was on roller coaster to much these days.
One time I was up, and another hours I was deep down on a valley.

It's really a new life for me. And I try to live it on.
Try to hang on on a hope.

Cz Allaah said,, "Jangan berputus asa atas karunia Allaah.."

There will be, (someday, somehow), right?

Just keep going. Don't stop. Keep going.



Gadis Bireun itu.

Gambar
(Mantan) calon adik ipar. Atau, ia lebih suka menyebut 'Calon Adik Ipar Yang Tidak Jadi'. Badannya kecil. Imut. Orangnya lebih suka mendengarkan. Menanggapi cerewetnya mulut satu ini. Dan memberi anggukan atau jawaban ketika perlu.
Awal kenal, ketika itu tidak terlalu 'ngeh'. Kami beda jurusan tadinya. Lalu terjadi migrasi, dan dia menjadi bagian dari jurusan kami, bersama seorang Gadis Merauke. Akan kuceritakan nanti tentang gadis yang satu itu. Bersama Gadis Sopeng, Gadis Jambi dan Seorang Pemuda Majalengka.
Gadis Bireun itu, meski tidak sering berbicara,- level kecerewetannya agak jauh dibawah kami [baca: Gadis Pangalengan dan Gadis Merauke],, tapi keceriaannya tak kalah manis. Senyum selalu menghiasi wajahnya.
Ia juga penurut. Ia sukarela memijati bahu dan punggungku yang pegal membawa ransel beriisi kehidupan hampir setiap hari. Dan ia juga baik. Ia merelakan lengan atasnya ku cubit dan ku gigiti jika sedang 'kambuh'. (dan saat ini tidak ada yang rela lagi…

Lentera Alena

Alena terdiam di ujung tebing. Satu tangannya menggenggam erat tali lentera apung yang menyala. Satu tangan lainnya menggenggam bilah kayu yang menjadi pagar pembatas tebing dan laut di bawahnya. Tatapan Alena terpaku pada matahari yang hendak pamit. Sebentar lagi mungkin. Alena mengalihkan pandangannya pada lentera yang ia genggam talinya. Menghadirkan kenangan atas lentera-lentera lain yang dulu pernah ada disana. Dulu, ketika matahari masih sepenggalan naik, ada lebih dari satu lentera yang talinya ia genggam. Sebelum satu persatu menjadi abu, menyisakan satu yang apinya pun tak lagi membara. Meski begitu, cahayanya masih cukup untuk menemani Alena. Beberapa hari yang lalu, sebuah bisikan bertanya pada Alena. Apakah ia yakin akan berhasil menerbangkan lenteranya ke langit sana? Alena hanya menjawab, "Insyaallaah..". Bisikan itu menyela,, menolak 'insyaallaah' Alena. Lalu menyuarakan berbagai tanya mengapa dan kalimat lain yang Alena hanya mampu terbata membala…

Selalu ada

Kami ketuk pintu rumah itu. Salah satu rumah dari deretan rumah kontrakan, berpintu kayu, berdinding tripleks dan catnya yang putih telah tak lagi putih. Tak ada jawaban. Kami ucapkan salam,, "Assalamu'alaykum warahmatullaah.." Jarum jam terus berjalan, tak peduli kami yang masih berdiri di depan pintu itu. "Assalamu'alaykum... Bapak nya ada?" Lagi, kami mencoba. Menguji sebuah usaha. "Bapak tidak ada." Sebuah suara perempuan yang menjawab. Aku hanya diam. Antara sudah terbiasa dengan jawaban itu. Atau tidak tahu apa yang harus dilakukan. Atau memang keduanya. Sepasang tangan yang ukurannya takjauh lebih besar dari tanganku, ku genggam erat. Rasa asing dengan lingkungan dimana aku berada, juga rasa benci,- entah pada tempat aku berdiri, pada perintah Mama agar aku datang ke tempat, pada perempuan yang menjawab pertanyaan kami tadi, atau pada apa,- membuatku tak ingin melepaskan genggaman itu. Sekali lagi, pemilik tangan yang ku genggam itu beruc…

Dua Sisi Kompetisi

Dua sisi.
Bagiku, kompetisi itu selalu tentang dua sisi.
Kompetisi dengan orang lain.
Dan,
Kompetisi dengan diri sendiri.

Dua-duanya melelahkan. Bisa membuat depresi, malah...

Kompetisi dengan orang lain, bisa jadi satu hal yang tidak adil.
Karena latar belakang, kemampuan dan banyak hal lainnya yang bisa saja berbeda.
Tidak homogen,, sehingga hasil kompetisinya bisa acak; random.


Kompetisi dengan diri sendiri,,, lebih melelahkan.
Apalagi jika si-diri terlalu memanjakan dirinya sendiri.
Terlalu banyak pemakluman,, terlalu banyak memaafkan dirinya.

Kompetisi dengan orang lain, alat ukur keberhasilannya kadang absurd.
Sukses bagi seseorang, tidak berarti sukses bagi orang lain.
Memiliki IPK empat poin nol-nol, mungkin tidak berarti apa-apa bagi seorang aktifis yang bisa tersenyum lapang ketika apa yang ia perjuangkan di bangku resesi bersama Rektornya tercapai.

Kompetisi dengan diri sendiri,, alat ukur keberhasilannya juga absurd.
Sukses bagi diri sendiri,, lalu merenung kembali, dan ti…

Saya, dan sesuatu yang bernama kedewasaan.

:)

Jika orang melihat angka lahir di kartu identitas saya,orang (mungkin) akan serta-merta berkata; saya sudah dewasa.
Sebuah kata halus untuk "ageing". ^^

Karena memang, sebuah angka yang besar tak pernah menjamin kedewasaan.

Just look at me.

Am I mature enough for a person at their late 20-ies?

Big NO.

I admit it.

Not proudly, but, hey.. i couldn't deny it.
That's the real.

Meski mungkin bagi beberapa orang, saya sudah termasuk dewasa,, karena defini dewasa kita berbeda.

Bagi saya, dewasa adalah ketika seseorang bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Tahu alasan yang mendasari setiap keputusan dan tindakannya sendiri,, dan teguh dengan itu.
dan keputusan serta tindakan itu adalah keputusan dan tindakan yang tidak hanya tidak akan merugikan diri sendiri tapi juga orang lain.

Menjadi dewasa, bagi saya, adalah ketika seseorang bisa mengerti dan memahami benar apa yang akan ia lakukan di saat berikutnya.

Menjadi dewasa, adalah ketika seseorang memiliki rencan ten…

What should and shouldn't, now...

:)
Aku tahu, ini adalah sebuah kebodohan yang nyata.
How could I be so stupid like this,,, being frightened by something that i shouldn't be.
But, what could I say?
It just happened.
Made me clearly opened eyes until 2 in the morning, or sometime, worst.
Couldn't sleep at all.
Stupid right?

I know.
It is.

Yes,,
I realized that this episode is happen again.
An episode where i would run from the reality and hide behind my reason of "take a rest" or "understanding my self".
Which is, it's ok, but not this long.

You know,
ada satu waktu dalam hidup yang membuat seseorang merasa begitu lelah, fisik dan mental.
Dan salah satu jawaban terbaik untuk episode itu adalah "rehat sejenak".
"Sejenak" bagi setiap orang itu relatif.
Satu hari, dua hari, satu pekan, dua bulan, lima tahun..
Tak tentu sama satu dengan yang lain, aku dengan yang lain.

It's OK.
Setiap orang boleh "rehat sejenak".
Boleh.

Tapi, satu hal yang aku khawatirkan.