Minggu, 17 Agustus 2014

Buku Harian Fahrani

17 Agustus 2014.
Hari ketika rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan bangsanya dari yang menjajah secara fisik.

Assalamu'alaykum warahmatullaah...

Dear, my D...

Aku Fahrani.
Fathiya Qisthi Kirani.
Fahrani.
Aku lahir di Paris-nya pulau Jawa, 28 tahun silam.
Aku anak ke-empat dari lima bersaudara.
Dua kakak laki-laki, satu kakak perempuan, dan satu adik laki-laki.
Keluarga yang ramai?
Ya. Sangat.
Bersama Ama dan Apa.
Dengan dua kakak ipar, satu abang ipar, dan ketujuh kurcaci yang menjadi generasi penerus keluarga kami.

Ya.
Aku Fahrani.

Dan ini, kisahku.

Selasa, 15 Juli 2014

Kamu seharusnya tak lari...

Dulu, bertahun lalu, seorang sahabat bagiku mengatakan ini.
"Kamu bukannya pasrah. Tapi sebaliknya, kamu melarikan diri."
Saat itu, aku tidak setuju dengannya.
Lari dari apa?
Aku sama sekali tidak lari. Aku hanya menggapai cita yang lain, dan membiarkan Allah memberiku cita yang itu ketika Allah menghendaki aku mendapatkannya.

Saat ini, aku berpikir, apa aku benar-benar lari darinya? Dari sebuah cita yang pernah kutorehkan dimasa lalu?
Atau aku memang tidak lari,, hanya kurang berusaha. Ah, alasan saja.

Alasan saja kah?
...
Belibet tingkat gunung salak ya? ^^
Ketika seorang sahabat kita tetiba mengatakan bahwa kita telah melarikan diri dari masalah. Dari sebuah tujuan yang harusnya kita tuju. Bukan hanya diam dan mengerjakan hal lain tanpa sedikitpun memerdulikannya.
Sebuah "tamparan" yang tak diduga,, mungkin bisa dikatakan demikian.
Dan ya, sahabat adalah seperti itu. Sebuah reminder yang akan mengingatkan kita ketika kita tersalah. Karena kasih sayangnya pada kita.

Ketika itu terjadi, mari bersyukur pada Allah,, karena memberi kita sahabat yang baik.

:)

Selasa, 08 April 2014

Ikhlaskan saja.

Begitu katanya.
Kata dokter.
Kata Tesa, sepupu yang berprofesi sbg dokter, juga begitu.
Kata Bang Anom, cucu menantu yg juga berprofesi sbg dokter, juga demikian.
Tapi, Kak Desy, yang juga seorang dokter, beliau bilang, insyaAllah nenek akan lebih baik.
InsyaAllah.
Aamiin.
Saya lebih suka mendengar kata-kata Kak Desy.
Terima kasih, Kak.
Setidaknya, kalimat itu lebih baik.
Lucu rasanya,
Beberapa kali kata itu sering saya ucapkan pada diri sendiri.
"Ikhlaskan saja"
Ketika ternyata ada barang yang hilang,,
Ketika mendapat nilai jelek pada ujian,,
Ketika ditinggal sahabat menikah..
Tapi untuk kali ini, sangat berat.
Berat sekali.
Karena konsekuensinya, terlalu berat rasanya.
Konsekuensi kehilangannya terlalu besar.
Kehilangan yang tak tergantikan.
Saya pernah merasakannya.
Dulu, 18 tahun lalu.
Dulu, memang bukan telinga ini yang mendengar dua kalimat berat itu.
Tapi konsekuensi dari jawaban yang dilontarkan dari permintaan "Ikhlaskan saja" itu turut saya alami.
Realy hard to do.
Yup.
To live without a figure of a father.
But, alhamdulillaah, He gives me a lot of things to make me survive...

Lalu sekarang,
Pertanyaan itu datang langsung pada saya.
Sayangnya, jawaban saya tidak akan terlalu berarti.
Saya hanyalah seorang cucu.
Anak kecil.
Jadi, jawaban "tidak" dari saya tidak akan mengubah apapun.
Ketika satu malam berlalu, Allah memberi saya banyak kesempatan untuk merenung.
Ketika saya kembali mengingat wajah beliau, ditengah perjuangan beliau, menatap saya lebih lama dari yang beliau bisa,,
Seketika hati saya rasanya hancur.
Bagaimana saya bisa turut mengiyakan "ikhlaskan saja" dengan adanya tatapan itu?
Dan hati saya pun luluh.
Bagaimana saya tidak turut mengiyakan "Ikhlaskan saja" itu, dengan adanya tatapan itu?
Karena saya tak tahu, saya tak berani lebih dalam menelaah tatapannya, apakah itu berarti beliau masih sanggup berjuang, atau beliau merasa sangat kesakitan dan beliau ingin menyudahinya.
Entah.
Entah.
Saya tak ingin kehilangan beliau, saya masih ingin menikmati kebersamaan dgn beliau meski hanya ketika hari raya.
Tapi saya pun tak ingin beliau terus merasakan kesakitan itu.
Ya Rabb,,
Jadi, kini, saya serahkan pada Allah saja.
Saya hanya berharap, apa yang akan terjadi adalah yang bisa membuat beliau bahagia dan diberkahi.
Apapun itu.
Sepahit apapun konsekuensinya untuk saya.
Apapun Ya, Rabb..
For her happiness...
Saya ikhlas...

#I want the world to know, that I love you, Grand Ma..
Sembuhkanlah ia, Ya Rabb...

Senin, 24 Februari 2014

Berhentilah, karena sudah cukup.

Berhentilah.
Ketika langkahmu hampir mencapai puncak.
Cukup.
Dan kembalilah.
Cukupkan langkahmu disini.
Kembalilah.
Biarkan perkiraanmu tetap indah.
Karena jika kamu lanjutkan langkahmu, mencapai puncak, lalu kamu lihat ia tak seindah bayanganmu,,,
Mungkin kamu akan kecewa.
Jadi, berhentilah.
Cukup disini.
Di-hampir sampai di puncak.
Lalu kembalilah.
Biarkan ia tetap seindah bayangan yang kamu ukir di kepalamu.
Biarlah.
Tetap indah.
Kira-kira, begitulah saduran kalimat yang aku ambil dari sebuah novel milik Tere Liye.
Novel yang judulnya Sunset bersama Rossie.
Sudah pernah baca?
Sudah agak lama memang novel itu terbit. Tapi, jika kamu baru akan membacanya setelah aku ceritakan, its ok.
Ada beberapa makna yang cantik yang bisa kamu temui disana.
Salah satunya, yang aku ketikkan di atas.
Cerita awalnya, begini diceritakan di novel itu; 
Alkisah, ada seorang mahasiswa yang sedang berlibur di sebuah pantai di Gili Trawangan.
Ia dan teman-temannya bermain snorkeling dan diving ditemani seorang pemandu.
Setengah jam berlalu sejak ia dan teman-temannya bermain, terjun ke laut, menikmati keindahan di dalamnya.
Lalu ia kembali ke perahu.
Pemandunya yang tak ikut serta terjun sejak awal merasa heran, kenapa cepat sekali mahasiswa itu kembali.
Lalu, mahasiswa itu menjawab, bahwa ia sudah merasa cukup.
Ia sudah cukup melihat keindahannya. 
Ia tidak mau lebih jauh lagi. 
Ia khawatir, lebih jauh ia berenang, bukan keindahan yang ia temui.
Ia sudah cukup meyakinkan dirinya bahwa pantai itu, laut itu dan isinya indah. 
Cukup.
Ia tak ingin menghancurkan anggapan itu.
Jadi ia mengakhiri petualangannya, dan kembali.

Jika aku dan kamu jadi dia, apakah juga akan seperti dia?
Mengakhiri kesenangan dalam kata ‘cukup’.
Lalu menyimpan kenangan dan hipotesis bahwa “laut di pantai ini adalah indah” itu baik-baik.
Tanpa merasa perlu menjelajahinya lebih jauh.
Cukup.
Cukup.
Cukup.
J




Sabtu, 22 Februari 2014

The Rainy City's Journey... (1st year)

23 Februari 2014.
Hampir delapan tahun sejak aku berada di kota hujan ini.
Well, sebenarnya tidak tepat delapan tahun,
karena aku sering pulang ke Bandung dan ada dua tahun yang aku lewati di Medan dan Pekanbaru.
But it still,,
dari sekian waktu yang aku jalani dalam perantauan, Bogor adalah daerah terlama yang aku singgahi.

Then, how it's feel?
Actually,,
I really grateful to be here.
For the campus, for the air, and for the friendships.

Tahun pertama ada di Bogor (seperti yang ku ceritakan di Langkah Kecilku), benar-benar masa adaptasi bagiku. Dan bagi mahasiswa baru IPB tentu.
Mencari teman, menyesuaikan diri dengan ritme kuliah, dengan lingkungan, dan berusaha cocok dengan keadaan.
Sulit?

Hm..
Kalau diingat sekarang, rasanya aku harus meminta maaf pada sahabat-sahabat tpb-ku, karena telah banyak merepotkan mereka.
Bagi seorang perasa maksimal sepertiku, sepertinya aku sangat menyulitkan mereka kala itu.
Bagaimana tidak, kalau sedih, aku bisa dengan sangat mudah menangis. seketika emosi tak bisa ku tahan.
Semata hanya karena aku rasa mereka adalah sahabat-sahabatku.
Padahal, tak semua yang kau anggap sahabat menganggapmu sahabat, kan?
Yup, aku belajar banyak dari tahun pertama itu. Belajar untuk mulai belajar.
Untuk belajar tidak cengeng dan tidak mudah menjadikan orang lain sebagai sahabat.
You can't trust anyone who comes to you..
Meski demikian, bukan berarti harus curiga berlebihan pada mereka.
Ya,, lebih easy going lah. Welcome to everyone to be friends but not best friend. ^^

Dan sepertinya, aku baru selesai belajar hal itu ketika aku sudah berada di Medan :)
Lama ya?
Hehe..

Perjalanan studi ku, sangat seru.
Mulai dari jaman tepebe yang,, mm mm,, let say it color full..
Sampai jaman skripsi-an yang,, hm hm,, menguras air mata, darah (alay), keringat,, but happy ending ^^

Jaman tepebe itu,, seperti anak tingkat satu IPB lainnya, aku terlabuhkan di asrama kampus.
Terlabuhkan.
Karena memang demikian.
Aku yang belum ada saudara kandung di Bogor, alhamdulillaah tidak usah susah-susah mencari kosan.
Newbie seperti aku jadi sangat terbantu.

Diasramakan bersama tiga orang lainnya dalam satu kamar,, itu adalah colorful pertama yang terjadi.
Satu orang Jawa tapi tinggal dan besar di Bali, satu orang Banyuwangi dan satu orang Minang nan tomboy.
Sebagai orang Sunda, it was great. :D
Meski salah satu teman kamar itu orang Sumatera,, tapi dia cukup lembut. (Kan katanya orang Sumatera itu keras.. :)

Oh ya, sebelum kilas balik soal asrama, ada satu kejadian yang sangat berkesan ketika aku registrasi awal di IPB.
Tempat tinggal ku di Bandung, berada sekitar 41 km dari pusat kota Bandung.
Bogor sendiri berada lebih jauh dari itu.
Untuk registrasi di IPB, aku harus berada di GWW IPB pagi-pagi, jadi,, aku dan keluarga berangkat dari Pangalengan jam 23-an,, dan berlabuh di Bogor jam 3 pagi.
Long road banget ya.. ^^

Ketika registrasi tiba, aku masuk ke GWW dengan berkas yang lengkap.
Tapi aku lupa satu hal penting.
Pulpen!
Aku kira (saat itu) aku harus punya pulpen.
Kenapa? Karena saat registrasi itu aku diberi beberapa formulir untuk diisi.
Panitia tidak bilang kalau form itu dikembalikan keesokan harinya.
Jadi, aku memperhatikan sekitar dan mencari orang yang bisa kupinjami pulpen.
Sebenarnya, aku tidak berani.
Tapi (pikirku saat itu), aku sangat membutuhkan pulpen.
Jadi, aku beranikan saja.
Menyapa seorang gadis berjilbab dan meminjam pulpennya.
Dan lucunya, sudah meminjam pulpen, berkenalan, tapi aku selalu salah menyebutkan namanya.
Aku terus menyapanya dengan nama Denis.. (karena kupikir itu namanya). Padahal, namanya bukan itu.
Huruf-hurufnya sudah tepat, hanya susunannya yang salah.
Lebih parah lagi karena ternyata aku lupa mengembalikan pulpen itu.
Dan masyaAllah, gadis itu ternyata saudari liqa-ku di kemudian hari.
Takdir yang manis.
Dan sampai kami mengarungi bahtera liqa pun, aku masih lupa mengembalikan pulpen yang sebenarnya sudah entah dimana.
Gomen, Denis.. (Mohon diikhlaskan ya.. :)

Itu cerita registrasi lucu tapi sangat berkesan yang aku maksud.
From help, to love...

Balik ke cerita asrama..
Selain tiga gadis roommate itu, di sekitar kamarku masih ada banyak kamar.
Kamar-kamar di asrama itu berlorong.
Aku Allah tempatkan di Lorong 2 Gedung A3..
Sebuah lorong ajaib..
Bagaimana tidak?
Suara dari lorong 2 bisa terdengar sampai ke lorong 5..
Curiga, di lorong kami itu dipasangi speaker apa ya?
:D
Cerita tentang lorong 2 dan segala pernak-perniknya itu saaaaangaaaat,,, banyak. Bisa-bisa jadi satu buku novel jika kuuraikan.
Suer.. :p
Ada cerita tentang candle light dinner kalau lagi mati lampu,,
Cerita menghias lorong ketika lomba hias gedung,
Cerita lomba males-malesan apel kalau Kamis tiba,
Cerita antri kamar mandi dengan cara antrian tinggal teriak-teriak dari kamar masing-masing,
Cerita seru ketika ujian tiba dan stress bersama,
Cerita tentang pengalaman-pengalaman dunia lain teman-teman selama di lorong (Alhamdulillah tidak pernah mengalaminya, hehe)
Cerita tentang lari seribu langkah setiap ke kamar mandi di dini hari setelah mendengar kisah horor anak-anak lorong dua,
Cerita tentang mencuci bersama di hari libur,
Cerita tentang berburu bekal rumah dari teman-teman yang baru pulang dari rumahnya.
Kalau dirunut begini, jadi kangen teman-teman lorong..
How are Gals?

Yah,, meski di asrama itu banyak yang g enak,, (air mati lah,, cucian hilang lah.. mati aliran listrik lah, jauh dari tempat makan yang seru lah.. jalan ke arah asrama yang melewati kebun karet yang seram lah..),, kehidupan asram memberi kesan lain dari IPB yang mungkin tidak ada di kampus lain.

^^
Tahun pertama yang sangat seru itu lalu ditutup dengan proses pemilihan jurusan.
FYI, jaman ku dulu (beneran dulu banget, hehe), ketika masuk IPB belum terdaftar sebagai mahasiswa jurusan mana pun. Masih anak SMA kelas 4 lah.
Jadi, ketika akan masuk ke semester tiga a.k.a tingkat dua, anak-anak disibukkan dengan pemilihan jurusan.
Lebih enak demikian, menurutku..
Jadi kita punya waktu untuk mengamati dan mencari tahu tentang jurusan yang kita tuju,, lebih melek tentang plus minus dan kepadatan aktifitasnya. Lalu mengukur diri apakah kita mampu atau tidak.
Aku masih ingat, setelah proses pemikiran dan pemilihan yang panjang.. (bagaimana tidak panjang,, ada 33 jurusan yang harus dirunutkan dari pilihan satu sampai 33), aku memilih jurusan kedokteran hewan sebagai jurusan terakhir.. :D
Aku rasa, aku tidak akan sanggup dengan darah dan pembedahan yang mungkin ada di jurusan itu.

Lalu, jurusan-jurusan yang ada di fakultas mipa,aku tempatkan di urutan bawah selanjutnya.
Aku pikir, aku bisa mengalami depresi tingkat tinggi dengan berada di fakultas itu.
Kenalan mama menyarankan ku mengambil jurusan Statistika.
No thanks,Om.. Kalkulus 1 dengan 1 cacing saja sudah membuatku cukup merana,, apalagi harus ada tiga cacing inferensia?
No thanks,,
Truly..

And then,,
akhirnya aku memilih jurusan Manajemen Sumberdaya Lahan atau IT (Ilmu Tanah, hehe) sebagai pilihanku.
Kenapa?
Karena ketika melihatmu, aku jatuh cinta.. *halaaah..
Bukan, tentu bukan itu.
Tapi,,
Ada deh.. It's top secret :D

Demikianlah..
Perjalanan di kota hujan ini berawal.
Dari tahun pertama ini aku benar-benar mulai berlajar untuk banyak hal.
Mulai belajar.
Mulai belajar lebih banyak.

Thank you 2006-2007, to be really amazing to me.

:)
And thank You Allah..
for everything..

Dan dari tahun pertama itu, aku beranjak ke tahun kedua.
Tahun yang lebih indah, dan (mulai) mendewasakan.
I'll tell you latter..
:)

Ja.
Ikimasho.. ^^/


Jumat, 14 Februari 2014

Aku menyayangimu, mencintaimu.

Aku tak punya alasan untuk mengikatmu erat.
Mendudukkanmu untuk selalu ada di sekitarku.
Untuk selalu hadir ketika aku memanggil.
Untuk selalu menjawab ketika ku sapa.
Untuk selalu tersenyum ketika aku meminta.
Aku tak punya alasan untuk mengungkungmu dalam sangkarku.
Membuatmu selalu hadir di setiap pandangku.

Mungkin Allah ingin menyadarkanku.
Aku bukanlah sayang padamu.
Karena sayang seharusnya adalah melihatmu bahagia.
Mungkin Allah berkehendak mengingatkanku.
Aku tiada cinta atasmu.
Karena cinta adalah apapun yang menjadi kebahagiaanmu dalam ridhaNya.

Mungkin selama ini, yang ada hanyalah  sebuah ego, bernama aku.
AKU.

Dan jika aku yakin bahwa aku menyayangimu, aku mencintaimu,,
Maka itu adalah bahagia atas kebahagiaanmu.

Dan aku yakin, aku menyayangimu, mencintaimu, Saudariku.

Meski entah sejak kapan itu.

Gomenasai,,

Rabu, 12 Februari 2014

Boneka Kuning Anelka.

“Nel, sudah beres semuanya?”
Sebuah suara bass memanggilnya dari sebuah perjalanan memori.
Anelka tersenyum, alih-alih menjawab.
Tangannya lalu terampil melipat beberapa pakaian dari pangkuannya. Pakaian-pakaian itu sedari tadi ia tempatkan di pangkuannya agar ia lebih mudah melipatnya.
Namun, disela kegiatannya itu, sebuah benda mengalihkan perhatiannya.
Sebuah buku kecil.
Buku kecil, tipis namun sangat penting.
Sebegitu pentingnya hingga mengingatkannya akan sebuah masa.
Suatu ketika, di waktu yang telah berlalu…
***
“Nel,, cepat bereskan mainanmu lalu mandi!”
Seorang gadis kecil yang sedang asyik bermain masak-masakan di teras samping rumah segera menoleh.
“Iya, Bu.. sebentar lagi.” Jawabnya.
“Cepat, Nel.. Keburu Ayah datang…”
Ayah datang. Bukan Ayah pulang.
Uuuhhh! Memangnya kenapa kalau Ayah datang?. Kan tidak masalah kalau saat Ayah datang, Nelka masih bermain.. ? Gerutu gadis itu dalam hati.
“Iya, Bu… Sebentar..!” Kesal gadis itu Nampak jelas pada nada balasan yang ia lontarkan.
“Anelka!”
Tiba-tiba sebuah suara keras dari jarak dekat mengagetkannya.
“Ibu sudah  menyuruhmu membereskan mainan itu dua kali. Jangan sampai Ibu suruh untuk ketiga kali ya.. dan jangan menjawab pada Ibu dengan teriakan. Tidak sopan itu!”
Suara ibu yang dilengkapi dengan mata melotot yang menyeramkan itu sudah sangat cukup untuk membuat sang gadis kecil ketakutan. Dengan terburu-buru ia membuang ‘masakan’ yang sudah ia buat dan memasukkan peralatan ‘masak’-nya ke dalam keresek.
“Anelka! Itu tanahnya berceceran di lantai, yang benar membereskannya!”
Ibu  menegur masih dengan nada tingginya.
Iya, iya,, sebentar Nelka bereskan.. Kalimat itu hanya bisa ia lontarkan dalam hati. Bisa berabe kalau ia lisankan langsung.
Ah Ayah, setiap datang ke rumah, selalu saja merepotkan. Hanya datang untuk makan, mengobrol sebentar dengan ibu. Marah-marah kalau ada yang menurutnya tidak sesuai dengan pemikirannya. Menegur anak-anaknya dengan emosi tinggi. Bahkan tak jarang bertengkar dengan ibu. Sekalian saja tidak usah datang!
Lagi-lagi gadis kecil itu hanya mengggerutu dalam hati.
“Sudah dibereskan semuanya, Nelka? Mengapa mukamu ditekuk seperti itu?”
Suara ibu sudah lebih kalem.
Gadis kecil bernama lengkap Anelka Hidayat itu masuk ke dalam rumah dengan muka agak kusut. Kekesalannya belum hilang.
“Sudah. Tidak kenapa-kenapa, Bu.” Bohong.
“Ya sudah, mandi dulu. Nanti ayah ingin bertemu kamu.”
Aku? Untuk apa Ayah ingin bertemu denganku?
“Baik, Bu.” Jawabnya cepat. Lalu berlalu.
^-^
Matahari belum beranjak ketika seorang pria paruh baya mengetuk pintu rumah.
Ibunya, seorang perempuan yang usianya bertaut dua tahun di bawah pria itu segera membukakan pintu.
Meraih tangan sang pria, lalu mempersilahkan masuk.
Pria itu adalah ayah.
Seseorang yang sedari tadi ditunggu ibu.
Bercakap sejenak, Ibu beranjak ke dapur untuk membuatkan  minuman dan menyediakan  kudapan.
Anelka yang sejak tadi memperhatikan kedatangan Ayah, takut-takut berdiri di belakang pintu kamar. Sebuah ruangan yang dipisahkan oleh dinding dengan tempat Ayahnya berada.
“Nel, sini..” suara Ayah yang berat mengejutkan Anelka. Ternyata Ayah sudah menyadari kehadirannya sejak awal.
Anelka beringsut masuk ke ruang tamu dengan sedikit ogah.
Salim, lalu duduk di kursi bersebrangan dengan pria yang berstatus ayahnya itu.
Ya, status.
Status saja.
“Ini, Ayah tadi membeli boneka Susan. Ada yang berbaju kuning, ada yang berbaju merah muda. Anelka mau yang mana?”
Suara berat itu berubah menjadi lembut.
Anelka diam sambil memperhatikan kedua boneka yang ditawarkan ayahnya.
“Yang mana, Nelka? Kuning atau merah muda?” Ayah mengulangi pertanyaan yang sama.
Anelka tidak tahu akan memilih yang mana. Kedua boneka itu cantik. Ia ingin keduanya.
“Anelka hanya bisa memiliki satu boneka. Satu boneka lagi untuk Berlian.” Jelas Ayah, seperti mengerti bahwa Anelka menyukai kedua boneka itu.
“Kuning.” Jawabnya cepat. Ia tahu, ia tak mungkin mendapatkan kedua boneka itu. Ada Berlian, gadis kecil sebaya dengannya, yang juga adalah putri ayahnya.
“Baik, ini untukmu. Dan boneka merah muda ini untuk Berlian.”
Ayah tak perlu menegaskan boneka itu untuk Berlian. Tidak perlu Ayah! Entah gerutuan ke berapa yang ia lakukan kali ini.
Ia menerima boneka itu dengan senyuman yang dipaksakan.
“Tidak bilang ‘terima kasih’, Nel?” suara Ibu tiba-tiba muncul seiring Ibu yang sudah selesai menyiapkan minuman dan kudapan.
“Terima kasih.” Ucapnya ragu.
Ayah menjawabnya dengan senyuman.
Anelka lalu mulai berkenalan dengan boneka itu.
Beranjak dari ruang tamu, menuju kamar.


_Bersambung_