My Dy, Tadi siang cukup terik. Cukup panas untuk seseorang yang lahir di kota dingin. Meski begitu, aku harus keluar dari kamar kos ku yang nyaman. Harus. Karena sebuah undangan terkirim ke handphone- ku. Undangan mengaji ^^ Sudah lebih dari sebulan kami meliburkan diri. Jadi, ketika aku bisa hadir, kenapa tidak? Memang suasana Bogor tidak menyenangkan untuk bepergian di siang bolong. Tapi, daripada bengong di depan laptop sendirian, lebih baik hadir di undangan ini. Kuatkan diri menghadapi terik panas dunia, berharap dikurangi panas di akhirat, hehehe.. So, Dy.. Apa yang disampaikan Bu Ustadzah tadi membuatku berperang bathin :D Kenapa, hm.. She said; "Selama tidak bertentangan dengan syariah, maka seorang istri harus patuh pada suami." Demikian ucap beliau. Lalu, apa yang membuat sampai bathinku berperang? Hehe, sebenarnya,, tidak sampai berperang.. hanya bergejolak.. :p Maksudku, tiba-tiba saja aku merasa terganggu. Kalimat itu terasa begitu menan...
Berhentilah. Ketika langkahmu hampir mencapai puncak. Cukup. Dan kembalilah. Cukupkan langkahmu disini. Kembalilah. Biarkan perkiraanmu tetap indah. Karena jika kamu lanjutkan langkahmu, mencapai puncak, lalu kamu lihat ia tak seindah bayanganmu,,, Mungkin kamu akan kecewa. Jadi, berhentilah. Cukup disini. Di-hampir sampai di puncak. Lalu kembalilah. Biarkan ia tetap seindah bayangan yang kamu ukir di kepalamu. Biarlah. Tetap indah. … Kira-kira, begitulah saduran kalimat yang aku ambil dari sebuah novel milik Tere Liye. Novel yang judulnya Sunset bersama Rossie. Sudah pernah baca? Sudah agak lama memang novel itu terbit. Tapi, jika kamu baru akan membacanya setelah aku ceritakan, its ok. Ada beberapa makna yang cantik yang bisa kamu temui disana. Salah satunya, yang aku ketikkan di atas. Cerita awalnya, begini diceritakan di novel itu; Alkisah, ada seorang mahasiswa yang sedang berlibur di sebuah pantai di Gili Trawangan. Ia dan t...
17 Agustus 2014. Hari ketika rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan bangsanya dari yang menjajah secara fisik. Assalamu'alaykum warahmatullaah... Dear, my D... Aku Fahrani. Fathiya Qisthi Kirani. Fahrani. Aku lahir di Paris-nya pulau Jawa, 28 tahun silam. Aku anak ke-empat dari lima bersaudara. Dua kakak laki-laki, satu kakak perempuan, dan satu adik laki-laki. Keluarga yang ramai? Ya. Sangat. Bersama Ama dan Apa. Dengan dua kakak ipar, satu abang ipar, dan ketujuh kurcaci yang menjadi generasi penerus keluarga kami. Ya. Aku Fahrani. Dan ini, kisahku.
Komentar
Posting Komentar