Postingan

Perempuan dan Penghidupan

Perempuan dan penghidupan. Sebuah pesan muncul di whats app grupku yang selalu ramai setiap hari, padahal isinya hanya berlima. Ku kira, hanya pesan biasa. Percakapan antara lima anak perempuan yang bersahabat sejak lama. Tidak. Pesan itu istimewa, setidaknya bagiku. Mengingatkanku akan suatu hal. Pesan itu cukup panjang. Sangat panjang malah. Isinya, tentang cuplikan sebuah talk show di sebuah stasiun tv, Mata Najwa. Edisi kali itu, bintang tamunya adalah seorang srikandi abad 21, walikota Surabaya. Kenal? Tidak. Saya hanya tahu beliau. Ibu Risma yang saya tahu dari media. Beliau saat ini sedang berjuang menutup sebuah lokalisasi di daerahnya. (Berkebalikan dengan  seorang wakil gubernur metropolitan Indonesia yang malah berniat membuat lokalisasi di wilayahnya) Sebuah lokalisasi, yang terjadi atas dalil buruknya keadaan ekonomi. Lalu ‘terpaksa’ self-selling … Dan yang umumnya ‘dijual’ adalah perempuan. Entah karena ‘dipaksa’ atau memang ‘atas ke...

From Lucy

Suatu ketika di ahad yang cerah,, tumben-tumben-an my little baby panda (my little brother) mengajak saya nonton. Benar-benar suatu ketumbenan. Apalagi, dia bilang dia yang akan membayar tiket nontonnya,, Subhanallaah kan? Tidak biasanya dia menawari menraktir akaknya ini, hehehe... Entah ada angin apa.. Singkat cerita, saya berangkat dari dramaga dan sampai di BTM pada pukul 10.10 wib. Wuish,,, Ingat sampai ke menitnya,..! Tentu ingat,, Kenapa? Karena saat itu kami janjian bertemu pukul 11.00. Jadi saya sempatkan mengecek jam kalau-kalau sudah dekat jam 11. Ternyata saya kepagian, sodara-sodara.. Bagus kan? Jadi saya tidak terlambat. Dan lebih bagusnya lagi,, adikku sayang itu baru sampai di stasiun pasar minggu *katanya. Itu berarti saya harus menunggu lebih lama.. Awalnya tidak apa-apa,, toh memang jam janjian kami masih ada beberapa saat. Tapi ternyata,, dia telat sampai 40 menit lebih dari jam 11.. Hffhfhf... (Rasanya ingin makan eskrim..) Jadi curiga,, jan...

Buku Harian Fahrani, continued

My Dy, Tadi siang cukup terik. Cukup panas untuk seseorang yang lahir di kota dingin. Meski begitu, aku harus keluar dari kamar kos ku yang nyaman. Harus. Karena sebuah undangan terkirim ke handphone- ku. Undangan mengaji ^^ Sudah lebih dari sebulan kami meliburkan diri. Jadi, ketika aku bisa hadir, kenapa tidak? Memang suasana Bogor tidak menyenangkan untuk bepergian di siang bolong. Tapi, daripada bengong di depan laptop sendirian, lebih baik hadir di undangan ini. Kuatkan diri menghadapi terik panas dunia, berharap dikurangi panas di akhirat, hehehe.. So, Dy.. Apa yang disampaikan Bu Ustadzah tadi membuatku berperang bathin :D Kenapa, hm.. She said; "Selama tidak bertentangan dengan syariah, maka seorang istri harus patuh pada suami." Demikian ucap beliau. Lalu, apa yang membuat sampai bathinku berperang? Hehe, sebenarnya,, tidak sampai berperang.. hanya bergejolak.. :p Maksudku, tiba-tiba saja aku merasa terganggu. Kalimat itu terasa begitu menan...

Sepatu dan 'Seseorang'

Miza hanya bisa tertegun. Pertanyaan itu begitu tiba-tiba. Untung saja pertanyaan itu dilontarkan via telepon, bukannya bertemu langsung. Kalau tidak, mungkin saat ini Miza juga harus menyetel musik  kencang-kencang agar Hitoshi tak mendengar degub jantungnya yang tiba-tiba memainkan genre rock n roll . Pikirannya sesak, selayaknya kereta ekonomi kala musim mudik tiba. “ Lalu, bagaimana dengan aku? ” Kalimat dengan empat kata itu begitu lancar ditujukan Hitoshi padanya. Sebuah pertanyaan yang sangat mampu membekukan tubuh Miza dalam satu waktu. Kamu??? Entahlah, Toshi … kamu adalah orang yang selalu ada disaat aku sedih, bahagia , bahkan dikala aku tak merasa apapun. Kamu selalu punya telinga untuk mendengarkanku meski badanmu telah menjalani jam kerja full time sebelumnya. Kamu tak pernah memutus ceritaku meski jam dijital di handphone mu sudah menunjukkan larut malam. Kamu juga tak pernah ijin tidak mendengarkan ceritaku ketika aku menelponmu tepat pada saat...

Buku Harian Fahrani

17 Agustus 2014. Hari ketika rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan bangsanya dari yang menjajah secara fisik. Assalamu'alaykum warahmatullaah... Dear, my D... Aku Fahrani. Fathiya Qisthi Kirani. Fahrani. Aku lahir di Paris-nya pulau Jawa, 28 tahun silam. Aku anak ke-empat dari lima bersaudara. Dua kakak laki-laki, satu kakak perempuan, dan satu adik laki-laki. Keluarga yang ramai? Ya. Sangat. Bersama Ama dan Apa. Dengan dua kakak ipar, satu abang ipar, dan ketujuh kurcaci yang menjadi generasi penerus keluarga kami. Ya. Aku Fahrani. Dan ini, kisahku.

Kamu seharusnya tak lari...

Dulu, bertahun lalu, seorang sahabat bagiku mengatakan ini. "Kamu bukannya pasrah. Tapi sebaliknya, kamu melarikan diri." Saat itu, aku tidak setuju dengannya. Lari dari apa? Aku sama sekali tidak lari. Aku hanya menggapai cita yang lain, dan membiarkan Allah memberiku cita yang itu ketika Allah menghendaki aku mendapatkannya. Saat ini, aku berpikir, apa aku benar-benar lari darinya? Dari sebuah cita yang pernah kutorehkan dimasa lalu? Atau aku memang tidak lari,, hanya kurang berusaha. Ah, alasan saja. Alasan saja kah? ... Belibet tingkat gunung salak ya? ^^ Ketika seorang sahabat kita tetiba mengatakan bahwa kita telah melarikan diri dari masalah. Dari sebuah tujuan yang harusnya kita tuju. Bukan hanya diam dan mengerjakan hal lain tanpa sedikitpun memerdulikannya. Sebuah "tamparan" yang tak diduga,, mungkin bisa dikatakan demikian. Dan ya, sahabat adalah seperti itu. Sebuah reminder yang akan mengingatkan kita ketika kita tersalah. Karena kasih sayang...

Ikhlaskan saja.

Begitu katanya. Kata dokter. Kata Tesa, sepupu yang berprofesi sbg dokter, juga begitu. Kata Bang Anom, cucu menantu yg juga berprofesi sbg dokter, juga demikian. Tapi, Kak Desy, yang juga seorang dokter, beliau bilang, insyaAllah nenek akan lebih baik. InsyaAllah. Aamiin. Saya lebih suka mendengar kata-kata Kak Desy. Terima kasih, Kak. Setidaknya, kalimat itu lebih baik. Lucu rasanya, Beberapa kali kata itu sering saya ucapkan pada diri sendiri. "Ikhlaskan saja" Ketika ternyata ada barang yang hilang,, Ketika mendapat nilai jelek pada ujian,, Ketika ditinggal sahabat menikah.. Tapi untuk kali ini, sangat berat. Berat sekali. Karena konsekuensinya, terlalu berat rasanya. Konsekuensi kehilangannya terlalu besar. Kehilangan yang tak tergantikan. Saya pernah merasakannya. Dulu, 18 tahun lalu. Dulu, memang bukan telinga ini yang mendengar dua kalimat berat itu. Tapi konsekuensi dari jawaban yang dilontarkan dari permintaan "Ikhlaskan saja" itu tu...